Luas Tanam Semangka di Watudakon Jombang Susut, Petani Waswas Ancaman Banjir

Ainul Hafidz • Dipublikasikan Senin, 27 April 2026 | 05:59 WIB

 

DIRAWAT: Petani di Desa Watudakon, Kecamatan Kesamben, Jombang merawat tanaman semangka.
DIRAWAT: Petani di Desa Watudakon, Kecamatan Kesamben, Jombang merawat tanaman semangka.

JombangBanget.di – Cuaca yang tak menentu membuat petani di Desa Watudakon, Kecamatan Kesamben, Jombang diliputi kekhawatiran.

Kondisi ini berdampak langsung pada penyusutan luas tanam semangka dibanding tahun sebelumnya.

Salah seorang petani, Hakim, mengaku saat ini tanaman semangka miliknya masih dalam tahap awal pertumbuhan dan belum berbunga.

Meski sudah mulai tanam, rasa waswas tetap menghantui akibat potensi banjir.

”Ini sudah tanam, tapi belum sampai muncul bunganya. Ya sedikit khawatir, karena di sini kalau hujan sering banjir,” katanya.

Baca Juga: Lima Ruas Jalan Ini Jadi Prioritas, Dinas PUPR Jombang Kejar Konektivitas Daerah

Hujan ringan sebenarnya tidak terlalu berdampak pada tanaman. Namun, ancaman utama justru datang dari luapan air sungai yang kerap membanjiri area persawahan.

”Kalau hujan saja masih aman, tidak sampai ke tanaman. Tapi kalau banjir dari sungai itu yang jadi masalah,” imbuhnya.

Belajar dari pengalaman tahun lalu, banyak petani kini berinisiatif membuat parit lebih dalam di lahan mereka untuk mengurangi risiko genangan air.

Pasalnya, banjir pada musim sebelumnya menyebabkan banyak tanaman gagal panen.

”Sekarang petani banyak yang bikin parit lebih dalam supaya menghindari banjir. Tahun lalu banyak yang gagal karena banjir,” ujarnya.

Sementara itu, Kades Watudakon Suharto membenarkan luas tanam semangka tahun ini mengalami penyusutan.

Dari sebelumnya lebih dari 60 hektare, kini hanya sekitar 30 hektare yang ditanami semangka.

”Sekarang hanya sekitar 30 hektare, tersebar di tiga dusun, Dusun Jerukwangi, Rembukwangi, dan Watudakon. Sisanya ditanami padi,” katanya.

Susutnya dipengaruhi trauma petani akibat banjir tahun lalu yang menyebabkan gagal panen.

Baca Juga: Waspada Kemarau Panjang, Dinas PUPR Jombang Atur Distribusi Air dan Pola Tanam Petani

Selain itu, sebagian petani memilih kembali menanam padi karena dinilai lebih aman dalam kondisi cuaca saat ini.

”Petani masih trauma banjir tahun lalu. Ada juga yang beralih ke padi karena khawatir kejadian serupa terulang,” ujarnya.

Meski demikian, ia menyebut sebagian tanaman semangka, khususnya di wilayah timur Dusun Rembukwangi, diperkirakan dapat dipanen sekitar satu bulan ke depan.

Terkait kondisi cuaca, Suharto menilai hujan masih relatif aman selama tidak memicu banjir.

Kekhawatiran terbesar tetap pada luapan air dari Afvoer Watudakon yang kerap menggenangi lahan pertanian.

”Kalau hujan tiga hari sekali dan tidak banjir, Inys Allah aman. Yang dikhawatirkan itu kalau banjir, karena airnya dari luberan Afvoer Watudakon,” katanya. 

Sementara itu, Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan, Perkebunan dan Holtikulturan Dinas Pertanian (Disperta) Jombang Budi Santoso mengakui, saat ini petani lebih banyak menanam padi.

”Iya, soalnya sekarang kecenderungan padi semua. Sementara LTT (luas tambah tanam) program pemerintah ini tanam padi,” katanya.

Meski demikian, usai panen raya padi diprediksi masih ada yang tanam diluar tanaman padi.

”Sementara kami belum mendata. Karena program swasembada pangan ini gencar, jadi petani diminta untuk tanam padi,” ujarnya. (fid/naz)

Editor : Ainul Hafidz
Luas Tanam watudakon Jombang semangka disperta jombang