JombangBanget.id - Banjir luapan Afvoer Watudakon yang merendam ratusan hektare sawah di Jombang menjadi pukulak bagi petani.
Pasalnya, harga jual gabah merosot akibat kualitas gabah menurun.
Di Dusun Beluk, Desa Jombok, Kecamatan Kesamben, petani mulai memanen padi yang sempat terendam. Namun, hasilnya jauh dari optimal.
Baca Juga: Konvoi Pesilat di Jombang Ricuh, Serang Warga dan Pengguna Jalan
”Sebagian sudah mulai dipanen, cuma tidak bisa bersamaan atau seluruhnya,” kata, Yasin Firmansyah.
Kondisi tanaman yang roboh membuat panen tak bisa menggunakan mesin modern. Petani terpaksa kembali ke cara manual.
”Panennya manual. Tidak bisa pakai combine. Kondisi padinya sudah ambruk, dan kemarin terendam banjir,” imbuhnya.
Dampak paling terasa ada pada kualitas gabah. Padi yang terendam mengalami penurunan mutu sehingga berimbas langsung pada harga jual.
Baca Juga: Desa Morosunggingan Jombang Bangun Gedung Posyandu Tiap Dusun, Ini Progres Terbarunya
Firman terpaksa melepas gabahnya ke tengkulak dengan harga di bawah harga pembelian pemerintah (HPP) gabah yang dipatok Rp 6.500 per kilogram.
”Pengaruh ke kualitas dan harga. Kemarin yang dijual ke tengkulak kisaran Rp 4.000 per kilogramnya,” tuturnya.
Selain harga yang merosot, biaya panen juga meningkat. Kondisi lahan yang tergenang membuat proses distribusi hasil panen menjadi lebih sulit.
”Untuk operasional panen bertambah, karena harus langsir dulu sebelum dibawa ke jalan raya. Biasanya bisa langsung,” ujar Kades Carangrejo Supriaji.
Kepala Dinas Pertanian Jombang M. Rony membenarkan, padi yang terendam dalam waktu lama akan mengalami penurunan kualitas signifikan.
”Benar, padi yang siap panen manakala roboh dan terendam air lebih dari lima hari akan menurunkan kualitas gabah,” katanya.
Baca Juga: Masih Eksis di Era Modern, Berikut Rahasia Kacang Goreng Pasir Mlaten Jombang yang Bikin Nagih
Dampaknya tidak hanya pada gabah, tetapi juga hasil beras setelah digiling. ”Jika digiling, maka beras yang dihasilkan patah dan berwarna kusam,” ujarnya.
Sebelumnya, Dinas Pertanian mencatat, sedikitnya 525 hektare sawah terdampak banjir di Jombang.
Wilayah terparah berada di Kecamatan Kesamben dengan luasan mencapai 421 hektare, disusul Ploso 84 hektare dan Plandaan sekitar 20 hektare. ”Pendataan di lapangan masih terus dilakukan,” tandasnya. (fid/naz)
Editor : Ainul Hafidz