Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Binrohtal: Memaafkan Ternyata Jalan Cepat Raih Ampunan, Berikut Deretan Manfaatnya

Rojiful Mamduh • Minggu, 5 April 2026 | 07:31 WIB

 

Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang

 

JombangBanget.id - Pengasuh Pondok Pesantren Halimiyah Tambakberas, Jombang,  KH Lukman Hakim, menjelaskan keutamaan memberi maaf.

’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda Tidaklah seseorang memaafkan kecuali Allah akan menambah kemuliaannya,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Kamis (2/4).

Allah Ta’ala memerintahkan memaafkan. Sebagaimana disebutkan di Surat Al-A’raf 199.

Baca Juga: Disabilitas Bukan Halangan Memimpin IPNU

Jadilah engkau pemaaf, dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.

Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah bersumpah tidak akan lagi membantu kerabatnya yang menyebarkan fitnah terhadap putrinya, Aisyah binti Abu Bakar.

Namun setelah turun ayat An-Nur 22; Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu?

Ayat ini menunjukkan bahwa memaafkan orang lain adalah sebab datangnya ampunan Allah Ta’ala.

Baca Juga: Profil dan Kiprah Siti Thoifah, Penggerak Tahfidz dan Metode Ummi MIN 1 Jombang

Setelah mendengar ayat itu, Abu Bakar langsung mencabut sumpahnya dan kembali memberi bantuan.

 Inilah contoh nyata bagaimana Alquran menghidupkan hati untuk memaafkan.

Memaafkan adalah akhlak Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. Rasulullah manusia yang paling pemaaf. Bahkan kepada orang yang menyakitinya sekalipun.

Allah berfirman di Surat Ali Imran 159. Maka disebabkan rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka.

Menjelang wafatnya, Rasulullah mengumpulkan para sahabat.

Dalam keadaan tubuh yang sudah lemah, beliau tetap menunjukkan kesempurnaan akhlaknya.

Beliau bersabda di hadapan para sahabat: ’’Wahai manusia, barang siapa di antara kalian yang pernah aku zalimi—baik dengan pukulan, harta, atau kehormatan—maka inilah diriku. Balaslah sekarang sebelum datang hari kiamat.’’

Baca Juga: Gerai Imigrasi Buka di MPP Jombang, Simak Jadwal Layanannya

Para sahabat terdiam. Mereka tahu, Rasulullah manusia paling mulia dan tidak mungkin berbuat zalim. Namun beliau tetap membuka kesempatan, sebagai bentuk keadilan yang sempurna. 

Tiba-tiba berdirilah seorang sahabat, yaitu Ukasyah bin Mihshan.

Ia berkata: ’’Wahai Rasulullah, dulu saat perang, aku berjalan di dekatmu. Engkau mengangkat cambukmu, dan tanpa sengaja mengenai punggungku.’’ 

Rasulullah tidak membantah. Beliau justru bersabda: ’’Kalau begitu, balaslah sekarang.’’

Beliau meminta agar diambilkan cambuk yang sama. Lalu beliau membuka bajunya, hingga tampak punggungnya yang mulia.

Para sahabat terharu dan cemas. Mereka tidak tega melihat Nabi dalam posisi seperti itu.

Ukasyah pun maju mendekat. Namun sebelum mencambuk, ia berkata: ’’Wahai Rasulullah, dahulu punggungku terbuka ketika terkena cambuk. Maka bukalah punggungmu seperti itu.’’

Rasulullah pun benar-benar membuka punggungnya. Ketika sudah sangat dekat, tiba-tiba Ukasyah tidak jadi memukul.

Ia justru memeluk dan mencium punggung Rasulullah sambil menangis.

Baca Juga: Tanaman Padi Terdampak Banjir, Dinas PUPR Jombang Turun Tangan Bersihkan Sumbatan Afvoer Watudakon

Ia berkata: ’’Wahai Rasulullah, aku tidak ingin membalas. Aku hanya ingin agar kulitku menyentuh kulitmu, supaya aku selamat dari api neraka.’’

Melihat itu, Rasulullah tersenyum dan mendoakannya.

Nabi bersabda: Barang siapa ingin melihat ahli surga, maka lihatlah Ukasyah. Ukasyah menjadi ahli surga karena mau memaafkan. 

Nabi bersabda; Orang yang paling kuat adalah yang mampu menahan amarah dan memaafkan.

Seorang tabi’in, Hasan al-Basri, pernah dihina oleh seseorang. Dia tidak membalas, justru mengirim hadiah kepada orang tersebut. 

Ketika ditanya, beliau menjawab: ’’Dia telah memberiku ‘hadiah’ berupa pahala, maka aku balas dengan hadiah dunia.’’

Syekh Abdul Qadir al-Jailani pernah dicaci. Namun beliau hanya tersenyum dan mendoakan kebaikan.

Ketika ditanya alasannya beliau menjawab: ’’Jika aku membalas, aku kehilangan pahala. Jika aku memaafkan, aku mendapat kedekatan dengan Allah Ta’ala.’’ (jif/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#Polres Jombang #keutamaan #Binrohta #memaafkan #Jombang