JombangBanget.id - Sekretaris Lembaga Dakwah NU Kecamatan Jombang, Ustad Sandi Ferdy Yulianto, menjelaskan golongan yang kelak akan mendapat naungan dibawah Arasy.
’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Tiga golongan manusia akan berada dalam naungan Arasy pada hari kiamat. Orang yang menyambung silaturahmi. Seorang wanita yang ditinggal wafat suaminya lalu ia mengurus anak-anak yatimnya hingga Allah mencukupi mereka atau mereka wafat. Serta orang yang membuat makanan lalu mengundang anak yatim serta orang-orang miskin,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Rabu (1/4).
Pertama, orang yang menyambung silaturahmi.
Baca Juga: 525 Hektare Sawah di Jombang Terendam Banjir, Ini Biang Keroknya
Menyambung silaturahmi berarti menahan ego, mengalahkan gengsi, dan memilih untuk tetap hadir meskipun tidak selalu diterima.
Dalam realitas kehidupan, hubungan kekeluargaan sering kali retak bukan karena masalah besar, tetapi karena hal-hal kecil yang dibesar-besarkan oleh perasaan dan kesombongan.
Orang yang mulia disisi Allah yakni orang yang tetap menyambung silaturahmi ketika diputus.
Tetap memberi ketika tidak dibalas. Serta tetap mendoakan ketika disakiti.
Baca Juga: Inspektorat Jombang Panggil Disdagrin dan Penyedia, Dalami Kerusakan Pasar Ploso
Mereka memiliki kedewasaan spiritual. Sehingga Allah Ta’ala memuliakannya dengan memberi naungan di Arasy-Nya.
Kedua, wanita yang ditinggal wafat suaminya, lalu ia memilih untuk tetap berdiri, mengurus anak-anaknya yang masih membutuhkan kasih sayang dan perlindungan.
Ia tidak hanya menjalani hidup, tetapi berjuang di dalamnya. Ia memikul peran ganda sebagai ibu dan ayah sekaligus.
Menahan lelah tanpa banyak keluh. Serta menyembunyikan kesedihan agar tidak menjadi beban bagi anak-anaknya.
Dalam diamnya terdapat pengorbanan. Dalam kesederhanaannya terdapat kekuatan, dan dalam ketegarannya terdapat keikhlasan yang dalam.
Perjuangan seperti ini sering kali tidak terlihat oleh manusia. Tetapi tidak pernah luput dari pandangan Allah Ta’ala.
Karena itulah, Allah memuliakannya dengan balasan yang tidak biasa, yakni berada dalam naungan Arasy pada hari yang penuh kesulitan.
Baca Juga: Banjir Luapan Afvoer Watudakon Rendam Tanaman Padi di Jombang, Petani Terancam Gagal Panen
Ketiga, orang yang membuat makanan, lalu tidak menikmatinya sendiri, melainkan mengundang anak yatim dan orang-orang miskin untuk ikut merasakan.
Tindakan ini bukan sekadar memberi, tetapi memuliakan. Ia tidak memandang mereka sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai tamu yang layak dihormati.
Dalam kebersamaan itu tercipta kehangatan dan keberkahan.
Dunia modern sering kali mengajarkan manusia untuk menikmati hasilnya sendiri, tetapi ajaran Islam justru mengarahkan pada kebahagiaan yang dibagi.
Makanan yang dibagikan dengan penuh keikhlasan tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menghidupkan hati.
Menyambung silaturahmi adalah bentuk kepedulian terhadap hubungan kemanusiaan.
Membesarkan anak yatim adalah bentuk tanggung jawab terhadap masa depan generasi.
Memberi makan kepada yang membutuhkan adalah bentuk kepekaan terhadap realitas sosial.
Baca Juga: Banjir Luapan Afvoer Watudakon Rendam Tanaman Padi di Jombang, Petani Terancam Gagal Panen
Semua itu bermuara pada satu nilai yang sama, yaitu menghadirkan manfaat bagi orang lain sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
Manusia tidak diukur dari apa yang dimiliki, tetapi dari apa yang diberikan.
Bukan tentang seberapa tinggi posisi yang dicapai, tetapi seberapa luas manfaat yang ditebar. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz