KALA ngaji qobla sahur di Pondok Pesantren Al-Madienah, Denanyar, Jombang, Sabtu (28/2/2026), KH Muhammad Najib Muhammad atau Abah Najib, selaku pengasuh membedah sisi kemanusiaan dan akhlak mulia dari dua tokoh besar dunia Islam: Imam Malik (sang guru) dan Imam Syafi'i (sang murid).
Beliau menekankan bahwa perbedaan pendapat bukanlah alasan untuk memutus rasa hormat.
’’Walaupun Imam Syafi'i memiliki pendapat yang berbeda terhadap Imam Malik, beliau tetap menghargai gurunya tersebut. Terutama saat berada di lingkungan ajaran Imam Malik,’’ tutur Abah Najib di hadapan para santri.
Pesan ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa setinggi apa pun ilmu seseorang, adab terhadap guru tetaplah yang utama.
Perbedaan yang memperkaya khazanah.
Abah Najib menjelaskan beberapa perbedaan mencolok dalam ijtihad kedua imam besar ini.
Salah satunya adalah pandangan mengenai anjing. Imam Malik berpendapat anjing tidak najis.
Beliau menjelaskan tentang kesucian anjing karena tidak ada hadis yang menjelaskan isi tentang kenajisan yang secara eksplisit menyatakan kenajisan hewan tersebut.
Sebaliknya, Imam Syafi'i meyakini bahwa wadah yang terkena jilatan anjing harus disucikan dengan membasuhnya sebanyak tujuh kali.
Salah satunya menggunakan tanah atau pasir. Adapun jilatannya wajib di basuh 7 kali dengan alasan taabud.
Logika Imam Syafi'i, Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Sucinya bejana kamu apabila dijilat anjing adalah dibasuh 7 kali.
Baca Juga: Ramadan dan Tradisi MBG
Nah, kata suci di sana mengandung dua hal suci, dari najis dan hadas karena bejana tidak mengandung hadas berarti mengandung najis.
Begitu pula dalam urusan salat Subuh. Imam Syafi'i memegang pendapat bahwa berqunut adalah disunahkan. Meskipun pendapat gurunya, qunut tidak dianjurkan.
Dengan keluasan ilmu dan sumber-sumber yang dimilikinya, Imam Syafi'i menyebarkan ajarannya tanpa sedikit pun merendahkan gurunya.
Bahkan, dalam sebuah momen di atas mimbar, setelah menjelaskan kesunahan qunut, beliau bersumpah: ’’Demi Allah, apabila guruku Imam Malik masih hidup, beliau pasti setuju dengan pendapatku.’’
Seni menghargai dalam perbedaan.
Pembelajaran besar dari kisah ini adalah bagaimana Imam Syafi'i mencontohkan "fikih toleransi".
Dikisahkan dalam sejarah bahwa saat Imam Syafi'i berkunjung ke wilayah yang didominasi pengikut Imam Malik, beliau memilih untuk tidak membaca qunut saat mengimami salat Subuh.
Hal yang mengejutkan adalah ketika Imam Syafi'i salat Subuh di sekitar makam Imam Malik. Beliau tidak memakai qunut karena menghormati gurunya.
Hal ini beliau lakukan bukan karena mengubah keyakinannya, melainkan semata-mata demi menghormati gurunya yang sudah tiada dan menjaga perasaan penduduk setempat.
Inilah keindahan Islam yang diajarkan oleh para ulama terdahulu.
Perbedaan pendapat bukan dianggap sebagai sumber perpecahan, melainkan sebagai rahmat yang memperkaya cara pandang umat.
Seorang murid boleh saja memiliki kecerdasan yang melampaui gurunya.
Namun ia tidak akan pernah mendapatkan keberkahan ilmu jika meninggalkan adab dan rasa hormat kepada orang yang telah membukakan pintu pengetahuan baginya.
Melalui pengajian ini, Abah Najib mengajak kita untuk merefleksikan kembali cara kita bersikap di tengah perbedaan.
Di zaman sekarang, di mana orang sangat mudah berdebat dan saling menjatuhkan karena beda pandangan, kisah Imam Malik dan Imam Syafi'i adalah oase yang menyejukkan.
Semoga kita semua mampu meniru jejak langkah mereka: Berilmu luas seakan tanpa batas, namun tetap membumi dengan adab yang tulus. (*)
Penulis:
Mohammad Fadhillah Sayidurrozaqi, Santri PP Al-Madienah, Denanyar, Jombang
Editor : Ainul Hafidz