KITA seringkali melupakan bahwa hidup dan perjalanan kita sampai detik ini tidak lain adalah wujud kasih sayang gusti Allah kepada kita.
Yang masih memberikan kepada kita anugerah dan kesempatan menghirup sisa waktu dan menginjakkan kaki di bumi-Nya sampai detik ini.
Dan yang telah menyediakan segala apa yang dibutuhkan semua makhluk sebagai bentuk cinta-Nya.
Sebagai bani Adam, kita telah dianugerahi hak istimewa oleh Allah Ta’ala sebagai wujud kasih sayang-Nya yang lebih pada kita di atas banyak makhluk-Nya yang lain.
Kesadaran akan hal itu bermula dari sebuah pesan di ayat ke-70 dari surah Al-Isra’: ’’Dan sungguh, kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan kami angkut mereka di darat dan di laut, dan kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna’’.
Syekh Wahbah Zuhaili menjelaskan makna ayat ini di dalam tafsirnya, tafsir Al Munir.
Beliau menguraikan, nikmat-nikmat agung tersebut meliputi empat perkara utama.
Yaitu penciptaan manusia dalam bentuk paling baik serta dengan akal dan pikiran.
Pengangkutan di daratan, di atas kuda, bighal (peranakan kuda dan keledai), keledai, unta, dan sarana modern lainya.
Baca Juga: Misteri Tiga Babak Ramadan: Mengapa Banyak yang Gugur sebelum Final?
Serta di lautan di atas kapal-kapal. Pemberian rezeki dari yang baik-baik. Serta pemberian kelebihan diatas banyak makhluk, tidak diatas semuanya.
Merenungi ayat dan penjelasan Syekh Wahbah Zuhaili di atas, dan sejenak kita amati lingkungan sekitar, kita akan menyadari bahwa kasih sayang Allah Ta’ala kepada manusia di bumi ini begitu sempurna.
Dimulai dari penciptaan bentuk yang paling baik serta akal pikiran yang dengannya kita bisa menikmati banyak nikmat-Nya yang lain.
Dari pengangkutan di darat, di laut sampai pengangkutan di udara. Serta masih banyak nikmat lain yang kita tidak akan bisa menghitungnya.
Setelah perenungan itu kita menyadari bahwa kemuliaan yang kita sandang bukan sekedar status.
Melainkan wujud nyata kasih sayang Allah Ta’ala kepada kita.
Dimulai dari pemberian bentuk yang paling baik serta akal pikiran yang menuntun arah, hingga penyediaan instrumen-instrumen pendukung yang memudahkan langkah.
Sebagai makhluk yang di anugerahi akal sempurna, kita bisa merasakan bahwa tiada sesuatu didunia ini yang diciptakan sia-sia.
Dari butiran debu yang terbang di udara sampai butiran pasir di dasar laut. Tidaklah itu diciptakan melainkan agar semua makhluk-Nya merasakan kehangatan di dalamnya.
Sebagai penutup, ayat ini lebih dari cukup untuk menyadarkan kita betapa Allah Ta’ala mencintai hamba-Nya.
Namun jika kita balik, apakah kita benar-benar mencintai-Nya?
Apa bentuk penghambaan kita kepada-Nya? Padahal secara hakikat, Allah Ta’ala sama sekali tidak membutuhkan kita.
Namun dengan kasih sayang-Nya yang tak terbatas Dia tetap mencurahkan rahmat, rida dan ampunan-Nya kepada kita yang justru sangat membutuhkan-Nya. (*)
Penulis:
Ahmad Fayroz Abadi, Mahasiswa Jurusan Ushuluddin, Yarmouk University, Yordania
Editor : Ainul Hafidz