JombangBanget.id – Musim panen tembakau tahun ini di Kabupaten Jombang diliputi kekecewaan.
Cuaca tak menentu dan kemarau basah membuat kualitas daun tembakau menurun.
Akibatnya, harga jual pun ikut anjlok. Banyak petani merugi lantaran harus melakukan tanam ulang berkali-kali sehingga biaya operasional membengkak.
Petani berharap ada program perlindungan bagi petani.
Sekretaris Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jombang Kabupaten Jombang, Hasan Sholahudin, menilai perhatian pemerintah daerah terhadap nasib petani tembakau masih sangat minim.
”Petani dibiarkan jalan sendiri. Mulai dari menanam, cari pupuk, sampai menjual hasil panen tanpa pendampingan. Pemerintah seharusnya hadir dan memberikan solusi konkret,” tegasnya, Rabu (8/10).
Menurut Hasan, cuaca menjadi faktor utama yang memengaruhi hasil panen tembakau musim ini.
Tahun ini, kondisi kemarau basah menyebabkan banyak tanaman tidak tumbuh optimal. Sehingga banyak petani merugi besar.
”Tembakau ini sangat bergantung pada cuaca. Kalau pemerintah bisa membaca potensi gagal panen, seharusnya ada langkah cepat seperti pemberian asuransi pertanian,” ujarnya.
Hasan menambahkan, hingga kini program asuransi pertanian baru mencakup tanaman padi, belum menjangkau petani tembakau.
”Padahal, tembakau termasuk komoditas berisiko tinggi terhadap perubahan cuaca dan fluktuasi harga,” tegasnya.
Baca Juga: Desa Pojokrejo Jombang Rayakan Hari Tani Nasional, Petani Diberi Apresiasi Khusus
Salah satu petani tembakau asal Dusun Banjarmlati, Desa Jatibanjar, Kecamatan Ploso, Sumarto, 58, mengaku hasil panennya tahun ini mengecewakan.
Sejak masa tanam, curah hujan tinggi membuat pertumbuhan tanaman tidak maksimal.
”Dari awal tanam sudah sering hujan, untungnya tidak sampai banjir. Tapi pas panen, harga tembakau turun tajam,” ujarnya.
Menurut Sumarto, harga tembakau kering tahun ini hanya sekitar Rp 22 ribu per kilogram, turun dari tahun lalu yang mencapai Rp 37 ribu – Rp 38 ribu per kilogram.
”Harga terbaik saja paling Rp 40 ribu, itu pun untuk kualitas super,” tambahnya.
Akibat penurunan harga dan hasil panen yang tidak maksimal, pendapatan petani pun anjlok.
Jika tahun lalu dari lahan 300 ru (sekitar 4.200 meter persegi) ia bisa meraup hingga Rp 50 juta, tahun ini diperkirakan hanya separuhnya.
”Harapannya daun tengah sampai atas nanti bisa bagus, biar sedikit menutupi kerugian,” kata Sumarto.
Kondisi makin sulit karena cuaca mendung berkepanjangan juga menghambat proses pengeringan tembakau.
”Panasnya kurang, jadi penjemuran lama. Kualitas daun turun,” ujarnya.
Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, M. Rony, membenarkan bahwa kualitas tembakau tahun ini menurun karena kemarau basah.
”Harga tembakau basah masih cukup bagus, sekitar Rp 5 ribu per kilogram, tapi kualitas produksinya memang turun,” jelasnya.
Menanggapi harapan petani terkait program asuransi gagal panen, Rony menyebut bahwa program asuransi saat ini masih difokuskan untuk tanaman padi.
”Untuk tembakau belum ada, tapi kami akan mengusulkan agar bisa mendapatkan perlindungan yang sama,” katanya.
Meski demikian, ia menyebut petani tembakau tetap menerima bantuan langsung tunai (BLT) dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) sebesar Rp 1,2 juta per tahun.
”Ini sebagai bentuk dukungan pemerintah,” pungkasnya. (yan/naz)
Editor : Ainul Hafidz