JombangBanget.id – Proyek pembangunan jaringan irigasi Pariterong di Jombang disebut sudah tuntas sejak Desember 2024 lalu.
Namun, dua kali dilakukan uji alir selalu gagal.
Belakangan, ada pekerjaan tambahan di sejumlah titik, terutama pembangunan jaringan penghubung.
Sebagian sudah tuntas, sebagian masih berjalan.
Pantauan di lokasi, di Desa Sawiji, Kecamatan Jogoroto misalnya, terlihat sejumlah pekerja sibuk membuat jaringan penghubung.
Kondisi serupa juga ditemukan di Dusun Dongeng, Desa Jarakkulon, Kecamatan Jogoroto.
Di lokasi ini, para pekerja masih menyelesaikan irigasi sudetan jaringan penghubung.
”Irigasi dari pintu air itu baru saja dibuat. Tetapi belum semuanya selesai,” ujar Fahmi, warga Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto ditemui di lokasi.
Ia pun tak mengetahui pasti pelaksana proyek. Namun, warga berharap proyek jaringan irigasi yang sudah berjalan sejak puluhan tahun lalu bisa segera difungsikan.
”Proyek ini sudah bertahun-tahun berjalan, tapi sampai sekarang belum juga difungsikan,” bebernya.
Sebelumnya, pekerjaan tambahan juga terlihat di wilayah Desa Balongbesuk, kecamatan Diwek, Jombang.
Sejumlah pekerja terlihat sibuk membuat jaringan penghubung dari saluran Pariterong ke saluran Rejoagung 4A.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Jombang Bayu Pancoroadi melalui Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Sultoni membenarkan, masih ada sejumlah pekerjaan tambahan yang saat ini sedang diselesaikan.
”Masih ada pekerjaan tambahan yang tidak tercakup dalam paket utama. Ini sifatnya penyempurnaan pada titik yang belum tertangani sebelumnya,” kata Sultoni.
Urusan aliran air melalui irigasi tersebut menjadi kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas.
Disinggung soal pengujian aliran air atau uji alir, Sultoni menyebut belum bisa memastikan. Namun, ada rencana upaya mengalirkan air.
Hal ini disebabkan adanya pekerjaan di Bendung Selorejo di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang yang berakibat pada penghentian aliran air dari hulu.
”Kemarin ada upaya untuk mengalirkan air ke irigasi Pariterong, meski tidak maksimal. Ini diharapkan bisa membantu sebagian wilayah di DI (Daerah Irigasi) Siman di bagian hilir,” jelasnya.
Pemkab berharap, jalur irigasi yang tengah disempurnakan diharapkan dapat memberikan manfaat bagi sektor pertanian setempat setelah seluruh pekerjaan rampung.
”Rencananya dalam waktu dekat ini diisi walaupun nanti tidak maksimal tetapi akan membantu sebagaian wilayah,” kata Sultoni.
Seperti diberitakan sebelumnya, proyek irigasi Pariterong sepanjang 17 kilometer ini membentang dari Desa Jantiganggong, Kecamatan Perak, hingga Desa Sidokerto, Kecamatan Mojowarno sudah tuntas dikerjakan sejak Desember 2024 lalu.
Sayangnya, hingga pembangunan saluran yang menelan anggaran jumbo tersebut hingga kini tak kunjung beroperasi.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Jombang, Sultoni, menyebut proyek ini berada di bawah kewenangan Perum Jasa Tirta (PJT) dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas.
Meski pengerjaan fisik sudah selesai, dua kali uji alir yang dilakukan pada akhir 2024 tak berjalan mulus.
”Sudah dua kali dilakukan ujir alir, tapi belum maksimal. Fungsinya tidak sesuai rencana karena pembangunan tidak dilakukan sekaligus. Butuh hampir 20 tahun baru selesai,” ungkap Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Jombang, Sultoni, Jumat (14/3).
Sedimentasi di bagian hulu, tepatnya di Kecamatan Perak diduga menjadi salah satu penghambat.
”Bangunan lama penuh sedimen, perlu pengerukan agar uji alir bisa lancar dan kapasitas irigasi sesuai rencana,” imbuhnya.
Saat uji coba, air dari Induk Mrican tak bisa masuk ke saluran Pariterong karena tertahan sedimentasi.
”Sudah diisi 3 meter kubik, tapi di hulu langsung penuh, air tak bisa mengalir,” tandasnya.
Selain itu, masih ada sejumlah item pekerjaan tambahan untuk penyempurnaan.
”Dari laporan teman-teman balai (BBWS Brantas) memang ada pengerjaan tambahan. Ada semacam pembuatan saluran penghubung, karena di titik itu belum ada koneksi ke Saluran Rejoagung 4A,” kata Sultoni dikonfirmasi, Kamis (22/8).
Pihaknya tidak mengetahui secara pasti apakah titik-titik tersebut sebelumnya memang sudah direncanakan dalam gambar kerja atau belum.
”Kami tidak tahu detail gambar tahun lalu. Tapi yang jelas, ini bukan perbaikan, melainkan murni penambahan di beberapa titik yang memang dibutuhkan,” kata Sultoni. (fid/naz)
Editor : Ainul Hafidz