JombangBanget.id - Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik tentang pentingnya memiliki kesadaran untuk menempatkan Allah di dalam hati.
’’Ketika raja telah menetap di rumahnya dan Tuhan telah mengaruniakan keamanan kepadanya terhadap semua musuhnya di sekeliling, berkatalah raja kepada nabi Natan: Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut Allah diam di bawah tenda,’’ tuturnya mengutip 2 Samuel 7:1-2.
Daud memahami betul bahwa seluruh perjalanan hidup yang telah dilaluinya, baik itu suka maupun duka, sampai menjadi raja dan menetap di Yerusalem, senantiasa berada di dalam tuntunan dan perlindungan Allah.
Nampak bahwa Daud menyadari dan menghayati hadirnya Allah dalam kehidupannya.
Bahkan segala berkat Allah yang diterimanya itu juga memunculkan rasa syukur, namun juga kesedihan di dalam hatinya.
Mengapa? Karena Ia tahu betul bahwa semua yang didapatkannya adalah berasal dari Tuhan semata.
Inilah yang mengusik hati Daud, masakan tabut Allah justru cuma diam di dalam tenda. Sementara dia tinggal di rumah yang dibangun dari kayu aras.
Kayu aras adalah jenis kayu yang bagus, kuat dan mahal harganya. Tidak semua bisa membangun rumah dengan kayu aras, kecuali orang yang kaya.
Oleh karenanya, maka Daud mempunyai inisiatif untuk membangun rumah untuk Tabut Allah, dan menyampaikan keinginan hatinya tersebut kepada Nabi Natan.
Daud pun mempersiapkannya dengan sungguh-sungguh untuk niatnya itu. Daud mempersembahkan harta benda yang dimilikinya.
Walaupun pada akhirnya bukan dia yang Tuhan kehendaki membangun Bait Allah, tapi anaknya Salomo yang Tuhan pilih.
Baca Juga: Renungan Minggu: Badai Boleh Mengguncang, tapi Tuhan Tak Pernah Jauh
Daud tidak kecewa karena Allah ada dalam hatinya, Daud tetap menyiapkan, mulai dari besi, paku, kayu, tembaga, perak dan emas yang begitu banyaknya, sampai tidak terhitung (1 Tawarikh 22:3-4; 1 Tawarikh 29:2).
Inisiatif Daud ini muncul atas dasar kesadaran dirinya bahwa ia bukanlah apa-apa dan bukan siapa-siapa di hadapan Allah, tetapi dia merasakan dikasihi Allah.
Daud menyadari bahwa segala sesuatu yang dimilikinya berasal dari Allah, bahwa seluruh perjalanan hidupnya berada dalam naungan Allah.
Artinya, sikap hati Daud ini muncul karena ia selalu menempatkan Allah di dalam hatinya, dan menyertakan Allah dalam hidupnya.
Demikianlah juga tentunya yang Tuhan rindukan atas kita yang percaya dan dikasihi Tuhan.
Sadarilah bahwa sejak semula Allah sendirilah yang memberikan hidup kepada kita, maka Allah sendiri pulalah yang akan menyertai dan memampukan kita menghadapi setiap permasalahan dalam hidup.
Maka yang patut direnungkan adalah bagaimana respons kita terhadap penyertaan Allah?
Sebagaimana yang Daud teladankan, marilah kita menempatkan Allah di dalam hati kita dan berserah kepada-Nya.
Dengan memiliki sikap demikian, maka akan bertumbuhlah rasa syukur kita akan melimpahnya berkat Tuhan.
Kita ini bukan siapa-siapa, tetapi Tuhan sangat mengasihi kita.
’’Ia yang berkuasa di atas segalanya pasti juga akan menuntun dan menyertai kehidupan kita. Itu sebabnya selalu andalkan Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Tuhan Yesus memberkati,’’ tegasnya. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz