TERDAPAT nukilan dialog unik antara Nabi Nuh AS dengan putranya Kan’an dalam Alquran surat Hud ayat 42 ’irkab ma’anaa’ kalimat ini bermakna ’naiklah bersama kami’.
Ketika Nabi Nuh AS naik perahu, mengarungi banjir yang tinggi gelombangnya seperti gunung, beliau melihat putranya berenang di kejauhan nyaris digulung ombak.
Segera naluri kebapakannya mengemuka. Beliau berseru ’wahai Ananda, naiklah kapal bersama kami!’ seruan sayang berbalut cemas.
Seruan itu bisa ditinjau dari dua aspek.
Pertama, menurut ilmu tajwid, ia harus dibaca ’irkam ma’anaa’.
Huruf ba’ melebur ke huruf mim. Dibaca dengan suara dengung, nama hukum bacaannya idzghom mutajanisain.
Akan salah jika tidak dibaca demikian. Tapi kalimatnya masih bisa dipahami artinya.
Kedua, secara historis sosiologis, kalimat tersebut tidak mungkin dibaca selain dengan lafadz irkam ma’anaa.
Mengapa tidak mungkin? Karena Nabi Nuh AS, memanggil anaknya dengan kecamuk pikiran.
Rasa sayang dan khawatir jika anaknya tenggelam bersama golongan pendusta. Kecamuk ini membuncah, menjelma menjadi seruan berbalut sedih.
Sehingga kalimat yang keluar adalah dengung duka ’Yaa bunayya, irkam ma’anaa’.
Baca Juga: Kalam Jumat: The Hell (3)
Paling tidak ada dua hikmah dari kisah tersebut. Pertama, tentang tanggung jawab. Sosok ayah adalah pemimpin.
Ia wajib menjaga keluarganya dari siksa neraka. Karena itu ia harus prima dan berkualitas.
Ini juga rahasia kenapa mayoritas perintah dalam Alquran menggunakan bentuk maskulin (mudzakkar).
Bahkan sholat Jumat pun hanya diwajibkan bagi para laki-laki.
Agar mereka mendidik keluarga dengan menyampaikan perintah Tuhannya demi menjaga mereka dari siksa neraka.
Yang kedua, adalah pewarisan nilai kebaikan. Ini harus ada. Apalagi dalam perkara yang paling vital, yaitu keimanan.
Seorang bapak tidak boleh meninggalkan penerus yang buruk. Apalagi tidak beriman. Ia harus menyiapkan kader.
Pewaris nilai kebaikan yang diyakini. Kader paling memungkinkan adalah anak. Tumpuan kasih sayang. Harapan masa depan.
Penulis:
KH Nur Rachmat Hidayat MHI
Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonosalam dan Pengasuh Pondok Pesantren Tarbiyah Junggo, Wonosalam, Jombang
Editor : Ainul Hafidz