JombangBanget.id - Juru bicara PKS di DPRD Jombang, H Heri Santoso ST, menjelaskan pentingnya memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia dengan hal-hal yang bermanfaat.
’’Jangan memperingati kemerdekaan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat atau bahkan bertentangan dengan nilai-nilai perjuangan dan ajaran agama,’’ tuturnya.
Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1945 sangat bersejarah dan sakral.
’’Kita sebagai penerus perjuangan para pahlawan, memiliki kewajiban untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif, cerdas, penuh berkah, nikmat, dan gembira,’’ terang anggota Komisi C DPRD Jombang ini.
Kita boleh merayakan kemerdekaan dengan suka cita dan kegembiraan.
’’Namun juga harus disertai dengan rasa syukur dan mengenang jasa para pahlawan,’’ ungkapnya.
Menurutnya, peristiwa kemerdekaan mirip dengan Fathu Makkah.
"Keduanya sama-sama bisa terjadi atas berkat rahmat dan pertolongan Allah SWT. Sehingga dalam memperingatinya tidak boleh dengan hal-hal yang menerjang larangan Allah SWT," urainya.
Setelah Perjanjian Hudaibiyah (yang mirip dengan gencatan senjata) dilanggar oleh kaum musyrikin Makkah, Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersama sekitar 10.000 pasukan kaum muslimin dari Madinah merencanakan untuk membalas pelanggaran tersebut dengan menyerbu kota Makkah.
Ketika Rasulullah dan pasukannya memasuki kota Makkah, kaum musyrikin Makkah merasa ketakutan.
Mereka mengira bahwa Nabi Muhammad SAW akan membalas dendam.
Namun ternyata, Rasulullah justru mengeluarkan maklumat yang menjamin keselamatan seluruh penduduk Makkah.
Maka terjadilah pembebasan (fath), atau kemerdekaan kota Makkah secara damai, tanpa perlawanan yang berarti.
Bahkan, masyarakat Makkah pun berbondong-bondong masuk Islam.
Melihat kemenangan ini, sebagian kaum muslimin terlalu larut dalam euforia, terlalu gembira hingga melompat-lompat dan bersuka cita secara berlebihan.
Kemudian Allah Ta’ala menurunkan QS An-Nashr: ’’Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu melihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Tobat.’’
Peristiwa ini mirip dengan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Para pendiri bangsa bahkan mengabadikannya dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945: ’’Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.’’ (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz