Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Petani Tembakau di Jombang Pilih Jual Daun Basah di Awal Musim Panen, Ini Alasannya

Achmad RW • Rabu, 13 Agustus 2025 | 12:40 WIB
Petani tembakau di Bendungan, Kudu sedang memanen tembakau dari sawah
Petani tembakau di Bendungan, Kudu sedang memanen tembakau dari sawah

JombangBanget.id – Awal musim panen tembakau sudah mulai terlihat di sejumlah wilayah utara Sungai Brantas, Kabupaten Jombang.

Salah satu daerah yang mulai memanen adalah Kecamatan Kudu, khususnya Desa Bendungan dan Desa Menturus.

Namun, alih-alih menjemur hasil panen dan menjualnya dalam kondisi kering seperti biasa, para petani memilih langsung menjual daun tembakau dalam keadaan basah.

Penyebabnya adalah cuaca yang tidak menentu belakangan ini. Mendung dan hujan sesekali turun, membuat proses pengeringan daun tembakau yang sangat bergantung pada sinar matahari menjadi berisiko tinggi.

Menurut Tek Diwanto, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Bendungan, panen saat ini masih tergolong awal dan belum merata.

Hanya petani yang mulai menanam pada bulan Mei dan tidak terdampak cuaca ekstrem yang sudah bisa panen lebih dulu.

“Sudah tiga hari ini mulai ada yang panen. Memang belum banyak, tapi sudah ada yang mulai terutama di Bendungan dan Menturus,” ujar Tek saat ditemui di sela aktivitasnya di ladang, Minggu (10/8).

Dengan kondisi cuaca seperti sekarang, para petani merasa lebih aman menjual tembakau dalam kondisi basah kepada para tengkulak, daripada mengambil risiko kerugian jika gagal dalam proses penjemuran.

“Di Bendungan ini, tembakau yang dipanen langsung dijual ke pasar di Tulungagung. Dijual dalam kondisi basah, harganya sekitar Rp 6.500 per kilogram,” ungkap Tek.

Ia menjelaskan bahwa meskipun harga tembakau basah jauh di bawah harga tembakau kering—yang bisa mencapai Rp 45.000 hingga Rp 50.000 per kilogram, petani lebih memilih opsi ini untuk menghindari kerugian karena cuaca tidak bersahabat.

“Butuh panas terik selama hampir seminggu agar tembakau bisa kering sempurna. Kalau hujan atau mendung, daun malah bisa rusak dan harganya anjlok,” tambahnya.

Tak hanya faktor cuaca, belum dibukanya gudang-gudang dan pabrik penampungan tembakau juga menjadi alasan kuat petani menjual dalam kondisi basah.

Hingga saat ini, gudang-gudang tersebut belum memberikan informasi resmi soal harga beli maupun jadwal pembukaan pembelian tembakau kering.

“Biasanya, kalau gudang sudah buka dan mengumumkan harga, petani lebih percaya diri untuk menjemur. Tapi sekarang kan belum. Jadi petani memilih yang pasti-pasti saja, yaitu jual basah ke tengkulak,” papar Tek.

Langkah ini disebut sebagai strategi bertahan petani di tengah ketidakpastian cuaca dan pasar.

Meskipun keuntungan dari tembakau kering jauh lebih tinggi, risiko gagal panen karena hujan bisa membuat petani justru merugi.

Belum lagi biaya tambahan untuk pengeringan dan penyimpanan yang juga harus dipertimbangkan.

Di sisi lain, dengan menjual basah, petani mendapatkan dana segar lebih cepat, yang bisa digunakan untuk kebutuhan harian ataupun modal tanam berikutnya.

“Kalau dikejar untung besar tapi akhirnya gagal jemur, kan malah rugi besar. Jadi ini pilihan realistis. Setidaknya masih ada hasil yang bisa dibawa pulang,” kata Tek.

Para petani berharap cuaca akan segera membaik dalam beberapa minggu ke depan, sehingga proses panen selanjutnya bisa dilakukan secara normal.

Selain itu, mereka juga menanti kabar dari gudang-gudang penampungan agar bisa menentukan langkah berikutnya: menjemur atau tetap menjual basah.

“Saya yakin nanti kalau cuaca stabil dan gudang sudah buka, pasti lebih banyak petani yang pilih jemur dan jual kering. Tapi untuk sekarang, kita realistis dulu,” pungkas Tek. (riz/naz/riz)

Editor : Achmad RW
#awal panen #Tembakau #Dijual #Jombang #Basah #utara brantas