JombangBanget.id – Banyaknya truk besar dan berat melintas di jalan-jalan kabupaten di Jombang dikeluhkan warga.
Selain merusak jalan dan mengancam keselamatan pengendara, lalu lalang truk juga membuat rumah-rumah warga yang tinggal di pinngir jalan bergetar.
Di antaranya dirasakan warga yang tinggal di pinggir jalan ruas Kasemen-Gudo, Desa Wangkalkepuh, Kecamatan Gudo.
Deretan rumah warga di pinggir jalan kabupaten tersebut lebih banyak ditutup.
”Benar sekarang jalannya ramai, cuma yang lewat kok truk-truk besar sekarang,” kata Nanang salah seorang warga.
Tak hanya itu, menurut dia, ketika truk-truk besar melintas dengan membawa muatan, bangunan rumahnya serasa bergetar.
”Rumah ini seperti horeg, dulu tidak pernah sampai seperti ini,” ujar Nanang.
Hal yang sama juga dikeluhkan warga Desa Tanggungan, Kecamatan Gudo, Jombang.
”Setiap truk lewat, rumah ini terasa bergetar. Ini bukan sekali dua kali saja, tapi hampir setiap hari,” kata M Yusuf warga lainnya.
Kondisi ini mulai terasa sejak sekitar empat tahun terakhir. Sebelumnya, hampir jarang truk-truk besar melintas di jalur itu.
Namun, semuanya berubah sejak patok besi di Jembatan Kasemen dibongkar.
Baca Juga: Jalan Kabupaten Diterjang Truk Berat, Dishub Jombang Akhirnya Ambil Sikap
”Semenjak palang dari besi di Jembatan Kasemen itu dibongkar, banyak truk-truk besar setiap harinya lewat sini,” tuturnya.
Truk-truk besar sejak saat itu, menurut dia, mulai menjadikan jalan kabupaten itu sebagai jalur alternatif.
Terutama menuju kawasan pabrik dan pergudangan di kabupaten tetangga.
”Truk yang lewat sini itu rata-rata arahnya ke Kunjang (Kabupaten Kediri), karena di sana sekarang banyak pabrik dan gudang-gudang. Dulu mobil tangki untuk SPBU saja jarang lewat sini, sekarang semua truk besar lewat sini,” tutur dia.
Selain mempercepat kerusakan jalan, dia khawatir getaran yang ditimbulkan kendaraan besar yang lewat juga memicu kerusakan bangunan rumah.
Sebab, sebagian besar rumah warga di sepanjang jalur tersebut dibangun tanpa struktur fondasi cakar ayam. Sehingga lebih rentan terhadap getaran.
”Khawatirnya rumah bisa retak-retak atau rusak. Apalagi bangunan di sini rata-rata bangunan lama. Kalau terus-terusan dilewati truk segede itu, apa tidak tambah parah rusaknya,” ujar dia.
Diakui, pejabat Pemkab Jombang sudah pernah survei ke lokasi pada Maret 2022 lalu.
Namun, hingga kini belum ada solusi konkret terkait lalu lintas truk besar yang melintasi kawasan permukiman tersebut.
”Efeknya tidak hanya ke pengendara, dan kondisi jalan. Dulu pejabat ke sini mungkin karena jalannya rusak, tetapi setelah jalannya diperbaiki sekarang malah banyak truk lewat,” tutur dia.
Karena itu, diharapkan pemerintah juga mencari jalan keluar.
”Harapannya ada solusi dari pemerintah, dilewatkan jalan yang sesuai atau jalur yang lain,” kata dia. (fid/naz)
Editor : Ainul Hafidz