Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Kalam Jumat: The Hell (5)

Ainul Hafidz • Jumat, 25 Juli 2025 | 13:34 WIB
Rubrik opini KH Mustain Syafii.
Rubrik opini KH Mustain Syafii.

SEBELUMNYA telah diterangkan perihal orang yang kedonyan, duitnya dihitung-hitung terus, dianggap kekal membahagiakan, ditumpuk dan terus ditumpuk, medit dan tidak mau bersedekah.

Lalu di-paedo dan dicaci oleh Tuhan: Yo ojo ngono, gak ngono carane, ’’Kalla..’’

Apa yang kamu sangka, yang kamu lakukan itu salah besar dan kelak akan menyengsarakan kamu sendiri.

Tidak hanya itu, poro wong medit tersebut kelak bakal dilempar (Layunbadzanna) ke neraka Huthamah.

Namanya dilempar pasti diperlakukan kasar dan tempat lemparannya tentu berjarak, jauh.

Gak usah membayangkan sakitnya nyungsep ke neraka, baru lemparannya saja sudah siksaan tersendiri.

Apalagi yang melempar malaikat yang super kuat, kejam dan geregetan.

Apa itu huthamah..? ’’Wa ma adrak Ma al-huthamah’’.

Yang langsung dijelaskan oleh Tuhan Sendiri: Huthamah adalah neraka yang bara apinya super panas, menyala-nyala dan menjilat-jilat. ’’Nar Allah al-muqadah’’.

Dari sisi lughah terkait kalimat ’’wa ma adrak’’ sudah diterangkan dulu.

Bahwa, jika ungkapan tersebut pakai fi’il madly, maka pasti dijelaskan sendiri oleh Tuhan, seperti pada ayat kaji ini.

Baca Juga: Kalam Jumat: The Hell (1)

Ya, karena selain tidak ada makhluk yang mengerti, yang jelas agar manusia segera mengerti.

Lalu mengambil pelajaran. Tapi kalau pakai fi’il mudlari’, maka dibiarkan, tanpa penjelasan.

Sudah dijelaskan kayak begini panasnya neraka Huthamah, masih saja banyak orang yang buta terhadap pesan agamanya sendiri dan lebih memburu harta berlimpah, meskipun haram.

Penumpukan harta, memperoleh harta haram seperti korupsi, sejatinya sama dengan memperbanyak bahan bakar neraka Huthamah yang kelak menghanguskan diri sendiri.

Jika di pemberitaan ada pejabat maling uang rakyat, sementara mereka muslim, pertanyaannya: ’’Apakah mereka tidak pernah membaca ayat ini..?’’

Jawabannya pasti sudah. Ya, karena mereka adalah orang-orang yang beragama Islam dan salatnya rajin.

Sayang, salatnya, hajinya, umrahnya tidak bermakna, tidak punya pengaruh positif kepada perilakunya.

Mereka juga orang-orang berilmu dan rata-rata sarjana. Yo ngerti agama.

Lha kalau gak pinter, mana mungkin jadi pejabat. Itu namanya ilmu yang tidak manfaat. Nafsu iblisnya lebih dominan ketimbang cahaya ilmunya.

Dari isyarat ayat kaji ini, bahwa penimbun harta, pemalak harta haram kelak dilempar ke neraka Huthamah.

Maka untuk menghentikan penumpuk harta hasil korupsi tersebut, paling efektif dan menimbulkan efek jera, ya dilempar ke neraka huthamah dunia.

Huthamah bukanlah penjara mewah, tetapi penjara mengerikan.

Tidak cukup sekedar dimiskinkan, melainkan harus pula disengsarakan, sesengsara-sengsaranya. Secara akaliah, masuk nereka itu pasti mati terbakar.

Tapi di dunia ini kita aktualkan dan kita sederhanakan. Yakni, koruptor sekian rupiah cukup dihukum mati saja. Pasti beres, murah dan mudah. (*)

Penulis:

KH Mustain Syafii, Mudir PP Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang

Editor : Ainul Hafidz
#Tebuireng #KH Mustain Syafii #harta #refleksi #Jombang #Kalam Jumat