JombangBanget.id - Ketua PCNU Jombang sekaligus Pengasuh Pesantren Putri Tebuireng, KH Fahmi Amrullah Hadziq, menjelaskan pentingnya hijrah ruhani.
’’Ada dua bentuk hijrah dalam ajaran Islam, yakni hijrah fisik dan hijrah rohani (maknawi),’’ tuturnya,saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Kamis (3/7).
Pertama, hijrah secara fisik pernah terjadi sebanyak tiga kali.
Dua kali ke negeri Habasyah (Ethiopia) yang berada di ujung benua Afrika dan satu kali ke Yastrib atau Madinah.
Hijrah fisik ini membuktikan betapa hebatnya pengorbanan para sahabat dengan melakukan perjalanan sangat jauh melintasi dua benua Asia dan Afrika.
Kewajiban hijrah secara fisik sudah berakhir setelah penaklukan kota Makkah.
Nabi bersabda; Tidak ada kewajiban hijrah setelah penaklukan kota Makkah, melainkan jihad dan niat.
Apabila kalian diajak berperang (di jalan Allah), maka berangkatlah.
Kedua, hijrah rohani (maknawi).
Secara fisik, jasad kita tetap berada di suatu tempat, namun hati dan pikiran, perilaku dan jiwa telah berhijrah.
Pindah dari kondisi yang tidak baik kepada keadaan yang baik, dari keadaan yang baik kepada kondisi lebih baik.
Baca Juga: Binrohtal: Hakikat Islam dan Hijrah Sejati
Jihad dalam Islam tidak boleh dipahami secara sempit dalam arti hanya berperang melawan kaum kafir saja.
Namun jihad di masa kini hendaknya dipahami secara lebih luas dan kontekstual.
Bahwa jihad bagi para pemimpin adalah dengan keadilan, amanah, tanggung jawab untuk selalu memikirkan kesejahteraan rakyat.
Rasulullah bersabda: Sehari keadilan seorang pemimpin lebih utama daripada ibadah 60 tahun.
Dan satu hukum yang ditegakkan di bumi Allah akan dijumpainya lebih bersih daripada hujan 40 hari.
Jihad bagi para pejabat dengan menunaikan tugas dan fungsi jabatan dengan sebaik-baiknya.
Menahan godaan hawa nafsu dan keserakahan untuk tidak menyelewengkan amanah jabatan, baik untuk kepentingan pribadi, keluarga maupun golongan.
Jihad bagi rakyat mendukung dan mendoakan setiap upaya baik yang dilakukan para pemimpin untuk mewujudkan kemaslahatan bersama.
Memberikan kritik dan saran dengan etika dan kesantunan sebagaimana diajarkan dalam salat berjamaah.
Jihad bagi tokoh agama seperti kiai, ustad dan guru adalah membimbing umat.
Termasuk menyebarkan amanah ilmu pengetahuan dengan keikhlasan dan kesabaran agar mereka menapaki jalan hidup dengan baik dan benar.
Dan jihad bagi orang-orang yang dititipkan harta kekayaan dengan dermawan dan peduli kepada fakir-miskin.
Jihad bagi fakir miskin dengan kesabaran dan doa-doa mustajab yang dipanjatkan.
Jihad dalam arti luas ini akan terus berlangsung hingga hari kiamat.
Setiap umat Islam berkewajiban berjuang sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing.
Rasulullah SAW bersabda: Jihad telah berlangsung sejak aku diutus oleh Allah hingga kelak umatku yang terakhir memerangi Dajjal.
Jihad tidak akan berhenti karena adanya kezaliman orang yang zalim maupun keadilan orang yang adil.
Setiap kali memasuki tahun baru, maka secara lahiriyah angka usia semakin bertambah, namum terkadang tidak sadar pada hakikatnya usia semakin menipis dan berkurang.
Ini pertanda kematian terus mendekat.
Rasulullah SAW berpesan agar tidak tertipu dengan pergantian masa sebagaimana berikut: Gunakan lima sebelum datang lima: Gunakan masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu dan hidupmu sebelum kematianmu. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz