JombangBanget.id - Imam Masjid Dr H Moeldoko, KH Muhtarom Alhafiz, menjelaskan pentingnya mengikis rasisme.
’’Rasisme adalah mentalitas iblis sehingga harus kita jauhi,’’ tegasnya, saat khotbah di Masjid Annur Satlantas Polres Jombang, Jumat (20/6).
Allah SWT telah menciptakan manusia dalam bentuk dan rupa yang paling sempurna. Sebagaimana disebutkan dalam Surah At-Tin ayat 4.
Allah SWT menciptakan manusia dengan perbedaan yang beragam — dari jenis kelamin, suku, bangsa, bahasa, hingga potensi dan kemampuan.
Sayangnya, perbedaan ini sering kali menjadi alasan bagi sebagian manusia untuk merasa lebih unggul dari yang lain.
Akar rasisme ini yakni iblis yang sombong. Saat diperintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam alaihissalam, iblis menolak karena merasa lebih mulia.
Sebagaimana disebutkan dalam QS Al A’raf 12. Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.
Inilah kesombongan ras pertama dalam sejarah. Akibatnya, iblis dilaknat dan dikeluarkan dari surga.
Islam mengajarkan kesetaraan, menghapuskan segala bentuk diskriminasi.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Wahai manusia! Ketahuilah, Tuhan kalian satu, dan bapak kalian (Adam) satu. Tidak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab, atau non-Arab atas Arab, orang berkulit merah atas berkulit hitam, dan sebaliknya kecuali karena takwa."
Sebagaimana juga ditegaskan dalam firman Allah SWT di Surah Al-Hujurat ayat 13.
Baca Juga: Binrohtal: Ini Lima Nasihat Sahabat Amr bin Ash agar Bahagia Dunia dan Akhirat
Ada tiga langkah menghindari rasisme.
Pertama, meyakini bahwa standar kemuliaan adalah takwa, bukan fisik.
Kedua, melakukan muhasabah (introspeksi diri). Nabi bersabda; Beruntunglah orang yang sibuk dengan aibnya sendiri sehingga lupa aib orang lain.
Jika kita sibuk dengan memperbaiki diri, maka kita akan terus termotivasi untuk berlomba dalam kebaikan.
Sebagaimana diperintahkan dalam QS Al-Baqarah 148.
Ketiga, mengasah empati dan memperbanyak komunikasi lintas perbedaan.
Pergaulan yang luas akan membuka mata hati kita bahwa setiap manusia membawa cerita dan perjuangan yang berbeda.
Rasulullah mencontohkan hal ini dengan sangat indah, ketika beliau duduk sejajar bahkan tidur di atas pelepah kurma bersama sahabat dari berbagai latar belakang.
Bahkan Bilal bin Rabah, mantan budak berkulit hitam, dijadikan muazin yang pertama.
Suatu hari setelah Fathu Makkah, ketika Abu Dzar Al-Ghifari memanggil Bilal dengan sebutan "Wahai anak kulit hitam!", Nabi langsung menegur: ’’Sesungguhnya engkau masih memiliki sifat jahiliyah!’’
Imam Abu Hanifah memiliki tetangga yang berbeda akidah dan sering mengganggunya. Namun beliau bersabar dan terus menjaga akhlaknya.
Hingga suatu hari tetangganya itu jatuh sakit dan tidak ada yang menjenguknya kecuali Imam Abu Hanifah.
Melihat kemuliaan akhlak tersebut, sang tetangga akhirnya masuk Islam. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz