SURAH Al-humazah, pengumpat, pencela, pancaci, pengadu domba, penfitnah dan sebangsanya.
Sebelum Tuhan membicarakan para brengsek dan pengecut itu, kata ’’wail’’ dikedepankan terlebih dulu sebagai warning tajam. Terus, apa makna ’’wail’’?
Celaka, ciloko, atau bongso sing gak enak-enak. Itu makna paling familiar di telinga kita.
ASN rendahan yang telat masuk kantor dan atasannya galak, mesti membatin: ’’Wah.. ciloko iki, mesti diumbreng-umbreng’’.
Koruptor tertangkap, jika pejabat cilik yo ciloko. Tapi nik sekelas gubernur, berbeda lagi.
’’Wail’’ berbentuk nakirah, mengilustrasikan makna bias dan tak definitive. Mudahnya diterjemah dengan neraka, the Hell.
Karena di sono memang ada nereka bernama ’’wail’’ Neraka super dingin yang membuat sekujur badan membeku dan jantung tersesak-sesak antara berhenti dan berdetak.
Siksaan mengerikan ini diungggah duluan sebelum menyebut penjahatnya agar membuat efek merinding, lalu tdak melakukan. Bagi siapa..?
’’Likull humazah lumazah’’ Susunan kata ini disebut i’bat, dua kata serupa tapi tak sama. Humazah – Lumazah. ’’Mazah’’nya sama. Tapi beda pada ’’Hu dan Lu’’.
Maknanya bisa sama atau bermiripan. Tak ubahnya kata ’’Ya’juj wa Ma’juj’’ (al-kahf: 94).
Ada riwayat, sebelum bumi ini dihuni manusia, sudah ada makhluk yang lebih dulu menghuni.
Baca Juga: Kalam Jumat: The Furniture, Show Only
Namanya ’’al-Hinnu wa al-Binnu’’, seimbangan dengan kata ’’al-Jinnu’’, bongso lelembut.
Model begitu itu sama dengan kata ’’cerai-berai’’ dalam bahasa kita, dan seterusnya.
Meskipun kata ’’humazah’’ dan ’’lumazah’’ dalam terjemahan kita disamakan, tetapi di dalam Alquran tidak pernah ada kata berbeda dengan makna sama, pasti ada bedanya.
Yang paling umum, ’’Humazah’’ itu untuk pencela, pencaci terbuka dan dilakukan dihadapan orangnya. Kayak memaki, ngelokno wong sambil menuding-nuding.
Tujuannya membuka aib dan merendahkan orang yang dicaci.
Sedangkan ’’lumazah’’ untuk pengecut yang mencela, menghasud, menebar aib, memfitnah dari bekalang dengan tujuan mengadu-domba, merusak nama baik dan sebangsanya.
Dulu, ketika Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam membagi-bagi zakat kepada orang yang berhak menerima sesuai arahan Tuhan, ada orang munafik yang menggerutu dan mencela beliau dari belakang, difitnah sebagai nabi yang tidak adil dan pilih kasih.
Lalu turun ayat: 58 al-Taubah, menggunakan kata ’’ ..Yalmizuk fi al-shadaqat.’’
Baik Lumazah maupun Humazah adalah dosa kemanusiaan, hak Adam, di mana Tuhan tak ikut campur. Terserah manusia yang bersangukatan.
Kalau memaaf, ya Tuhan memaaf. Kalau tidak. Tuhan pun tak mau mengampuni.
Kok sampai akhir urusan kemanusiaan belum beres, biasanya matinya susah, ruhnya nyantol and nyendat-nyendat di tenggorokan.
Ngeri. Apalagi bila yang disakiti, yang dikecewakan orang tuanya. Na’udz billah min dzalik. (*)
Penulis:
KH Mustain Syafii, Mudir PP Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang
Editor : Ainul Hafidz