Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Kalam Jumat: Refleksi Al-Ma’un di Idul Qurban

Ainul Hafidz • Jumat, 13 Juni 2025 | 13:13 WIB
Rubrik opini KH Mustain Syafii.
Rubrik opini KH Mustain Syafii.

BARU Jumat yang lalu kita berhari raya qurban, beriringan dengan khatamnya ngaji surah al-Ma’un, the Furniture.

Mereka yang tidak punya kepedulian sosial, yang enggan berbagi sampai yang tak mau meminjamkan alat dapur dianggap pendusta agama, tak iman kepada Hari Akhir.

Sebuah cap agama yang mengerikan.

Di situ ada drama agama seorang bapak yang dengan kesadaran menyembelih anak kandung sendiri.

Alasannya karena disuruh Gusti Allah SWT lewat mimpi. Yang lebih mengejutkan, si anak itu kok yo manut.

Dramaturgi ini membuat akal sehat judeg dan bergecamuk, lalu ngelantur: Ini Gusti Allah yang gak genah, atau Ibrahim yang gak waras, atau Ismail yang colo..?

Jawaban teologisnya adalah: Tuhan Maha bijak, Ibrahim maha patuh dan Isma’il maha pasrah.

Yo begini ini mesti kita contoh. Yang tua niru Ibrahim. Yang anak niru Ismail. Pokoknya perintahe Gusti Allah, bah masuk akal atau tidak, gak usah rewel.

Dipatuhi saja, pasti baik. Tuhan tak kan pernah mencelakai hamba-Nya.

Ibrahim alaihissalam semula sangat mencintai Tuhan, tetapi setelah punya anak Isma’il cintanya tak disadari menjadi terbagi, antara ke Tuhan dan ke anak kandungnya yang lama diidamkan dan itu manusiawi.

Tapi Tuhan tersinggung dan cemburu. Kok Aku dinomor duakan.

Baca Juga: Kalam Jumat: The Furniture Scoring

Dengan tegas Tuhan memberi pilihan yang sangat sulit bagi seorang ayah: Hai Ibrahim, kamu pilih Aku atau anakmu..?. Jika pilih Aku, maka sembelihlah anakmu.

Ibrahim memilih Tuhan dan Ismail benar-benar hendak disembelih. Tapi keajaiban datang.

Ternyata kambing besar yang disembelih. Akhirnya, semua, Tuhan, Ibrahim dan Ismail tersenyum lega.

Qurban itu artinya sangat dekat, usaha serius mendekatkan diri kepada Tuhan, lewat menyembelih nafsu duniawi yang paling disukai.

Sekelas nabi, anaknya yang disembelih. Sekelas non Nabi, cukup kambing saja.

Di sini nyata, bahwa qurban itu bukan sesajen. Qurban adalah ibadah sosial, persembahan hewan ternak sebagai media menuju kedekatan dengan Tuhan.

Sedakah daging satu ton, walau nilainya lebih mahal tak bisa disebut qurban.

Sedangkan sesajen untuk pepunden dan demit yang gak jelas.

Jadi: Pertama, sejatinya yang disembelih itu harusnya nafsu kebinatangan, nafsu perkambingan kita sendiri.

Kambing, bila hendak makan, tidak pernah bertanya-tanya: Ini rumput siapa, rumput halal atau rumput tetangga. Main santap saja.

Kalau ada pejabat bermoral kambing, melalap uang rakyat, ya harus ’’disembelih’’, pasti jera dan rakyat sejahtera.

Kedua, karena makna qurban itu lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, maka setelah qurban harus tambah ibadahnya, tambah takwanya, makin rajin sedekah, makin suka berbagi dan makin istiqamah berjamaah.

Baca Juga: Kalam Jumat: The Furniture (13)

Dan hari ini saatnya membuktikan. Tanda qurban diterima dan tidak, lihat amalnya setelahnya. (*)

Penulis:

KH Mustain Syafii

Mudir PP Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang

Editor : Ainul Hafidz
#al maun #opini #Tebuireng #KH Mustain Syafii #refleksi #idul qurban #Jombang #Kalam Jumat