JombangBanget.id - Ustad Muhammad Nur Iskandar dari PP Al Muhsinin, Tugu, Kepatihan, Jombang menjelaskan pentingnya menghindari syubhat.
’’Rasulullah Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya yang halal itu jelas, yang haram juga jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat (samar) yang kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Barang siapa menjaga diri dari syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barang siapa terjatuh ke dalam syubhat, maka ia bisa terjatuh ke dalam yang haram, seperti penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan, hampir saja ia masuk ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki tanah larangan, dan ketahuilah bahwa tanah larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa dalam jasad ada segumpal daging, jika ia baik maka seluruh jasad akan baik, dan jika ia rusak maka seluruh jasad akan rusak. Ketahuilah bahwa itu adalah hati,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Selasa (10/6).
Setan mengajak berbuat dosa kecil, dosa besar dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.
Sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-Baqarah 169.
Setan mudah masuk karena makan tidak halal. Sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Baqarah 168.
Makanan haram membuat tubuh sulit diajak ibadah. Banyaknya orang membuka aurat itu karena makanan tidak halal.
Sebagaimana disebutkan dalam Surat Ta Ha ayat 121. Maka keduanya (Adam dan Hawa) memakan dari buah pohon yang dilarang, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya.
Agar tidak terjerumus haram, maka yang syubhat pun harus dijauhi.
Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu berkata: Kami meninggalkan 70 pintu perkara halal karena khawatir terjatuh pada yang haram.
Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma juga berkata: Siapa yang menganggap remeh syubhat, maka ia bisa jatuh ke dalam keharaman, dan siapa yang menganggap remeh keharaman, ia telah rusak hatinya.
Imam Al-Ghazali berkata: Hati itu ibarat cermin. Jika dibiarkan terkena debu syubhat dan dosa, maka tidak akan bisa lagi memantulkan cahaya hidayah.
Syaikh Abdul Qadir al-Jailani rahimahullah menasihati: Jangan sampai engkau melangkah menuju perkara yang engkau ragukan, karena bisa jadi engkau menginjak api neraka tanpa kau sadari.
Suatu hari, Imam Abu Hanifah menolak minum air dari sebuah rumah karena ia tidak yakin apakah air itu berasal dari sumber yang halal atau tidak.
Muridnya bertanya mengapa ia menolak, padahal itu hanya air.
Ia menjawab: ’’Lebih baik aku haus di dunia daripada hatiku terkena noda di akhirat.’’
Rasulullah menegaskan bahwa pusat dari segala kebaikan atau keburukan adalah hati.
Jika hati bersih dan suci dari keraguan dan syubhat, maka seluruh amal pun menjadi bersih.
Maka dari itu, tugas seorang muslim adalah membersihkan hatinya, menjauhi syubhat, dan tidak mendekati perkara haram.
Nabi mengajari doa; Ya Allah, bersihkanlah hatiku dari kemunafikan, bersihkan amalanku dari riya’, bersihkan lisanku dari dusta, dan bersihkan mataku dari pengkhianatan. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz