JombangBanget.id - Katib Syuriyah MWCNU Jogoroto sekaligus Wakil Ketua MUI Jogoroto, Jombang, KH M Sholahuddin Kariim, menjelaskan keutamaan bulan Dzulhijjah.
’’Dzulhijjah merupakan salah satu dari empat bulan haram (suci) yang diabadikan oleh Allah dalam Alquran Surat Attaubah 36,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Senin (26/5).
Ini momentum luar biasa untuk menambah amal saleh, memperbanyak ibadah, dan menyucikan hati.
’’Ada dua hal yang Allah perintahkan di bulan Dzulhijjah,’’ terangnya.
Pertama berhaji.
’’Haji adalah bentuk pengakuan keimanan terhadap ayat-ayat Allah yang kauniyyah (tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta). Di sana ada maqam Ibrahim, zamzam, dan ritual-ritual yang menjadi bukti sejarah kenabian dan tauhid,’’ terangnya.
Kedua berkurban. Ini wujud dari ketaatan, keimanan dan ketakwaan.
’’Sekali-kali bukan daging atau darah yang akan sampai kepada Allah, akan tetapi ketakwaan kitalah yang akan Allah nilai,’’ tegasnya mengutip QS Alhajj 37.
Ini menegaskan bahwa bukan bentuk fisik hewan sembelihan yang Allah nilai, melainkan niat dan ketundukan hati dalam menjalankan perintah-Nya.
Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tidak ada amalan anak Adam di hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai Allah daripada menyembelih hewan kurban.
’’Nabi Ibrahil alaihissalam diperintah menyembelih anak saja dilakukan. Masak kita disuruh menyembelih hewan tidak dilakukan,’’ tegasnya.
Baca Juga: Binrohtal, Bahaya Ibadah Tanpa Ilmu
Jika kita tidak mau berkurban secara sukarela, maka Allah maha kuasa untuk mengambil dari kita secara paksa.
Pada tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah kita juga dianjurkan berpuasa sunah.
Alkisah, Abu Yusuf Ya’qub bin Yusuf punya teman di Makkah. Ketika keduanya berada di tempat gersang nan tandus, si teman wafat.
Abu Yusuf pun keluar mencari kain kafan. Namun dia kaget karena saat kembali temannya sudah dikerumuni banyak peziarah.
Dia makin kaget saat melihat kain kafan berwarna hijau yang membungkus temannya bertuliskan: ’’Inilah balasan orang yang mengutamakan rida Allah ketimbang rida dirinya sendiri; orang yang rindu menemui-Ku dan karenanya Aku pun rindu menemuinya.’’
Setelah mengubur jenazah, Abu Yusuf mimpi melihat temannya menunggang kuda.
Di belakang ada satu orang yang sangat tampan di kawal empat orang. Abu Yusuf bertanya, siapa mereka?
Temannya menjawab, itu Nabi Muhammad SAW dan empat sahabat yang hendak menziarahiku.
Abu Yusuf pun kagum dan bertanya, ’’Bagaimana kamu bisa mendapatkan kemuliaan semacam ini?’’
’’Sebab aku memprioritaskan rida Allah dibanding rida diriku sendiri dan aku berpuasa pada tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah,’’ jawab temannya.
Sejak itu, Abu Yusuf selalu berpuasa tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz