CEMOOHAN al-Ma’un. Memang isi kandungan surah kaji ini ’’gatelno kuping’’, benar-benar tidak mengenakkan bagi orang beriman yang tidak benar-benar beriman.
Tetapi akan menjadi enak hidupnya, baik di dunia maupun di akhirat bila ’’gatekno’’, mematuhi pesanya.
Dibuka dengan kata ’’Ara’aita’’, berkhitab kepada Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam, namun dimensi makna tesis itu amat varatif.
Antara lain: Pertama, Wahai Muhammad..! kamu sudah mengerti apa belum soal betitetnya umatmu yang kelihatannya beriman, tetapi aslinya dia benar-benar mendustakan agama dan mendustakan pula hari kiamat..?
Ini menuntut kewaspadaan dari semua tokoh agama agar tidak terkecoh dengan penampilan umatnya yang sok saleh.
Ukuran saleh di sini, lihatlah kepedulian sosialnya, lihatlah kepekaannya terhadap kemiskinan rakyat.
Rumus peduli itu berderma, mengeluarkan uang pribadi untuk kesejahteraan orang lain.
Maka, koruptor pasti masuk kategori ini. Dia tega makan uang rakyat secara haram, gede lagi.
Meskipun dia kiai, pimpinan ormas Islam, menteri agama, nek korupsi, -demi Tuhan - berat rasanya masuk surga.
Uang tilepannya itu kelak berubah menjadi bara api yang super menyakitkan.
Hai Muhammad, jika kamu sudah tahu, maka arah dakwahmu mesti kamu ubah, kamu fokuskan kepada gerakan sosial dan membangun sarana ekonomi yang produktif, meningkatkan kesejahteraan umat.
Baca Juga: Kalam Jumat: The Furniture (14)
Ojo ngaji guyonan, ojo salawatan terus, ojo khataman terus. Bongso ngono-ngono iku sudah lumayan tertata. Ini lho sangat dan sangat penting.
Siapa abai, dicap sebagai pendusta agama, pendusta hari kiamat, pendusta hari pembalasan. Hmm..Ngeri…
Kedua, Gusti Nabi diperintah memberitahu kepada Allah (?) Tentu kepada khalayak secara umum perihal si pendusta agama. ’’Akhbirny’’, siapa saja mereka.
Jadi, mereka yang kikir dan tidak punya kedulian sosial itulah sesungguhnya yang mesti diinformasikan, yang mesti dicatat oleh lembaga sosial.
Daftar wong medit Kabupaten Jombang bla..bla bla. Jangan hanya yang menyumbang saja yang diapresiasi.
Nah, orang yang potongannya begini-begini inilah sesungguhya yang merusak agama. Untuk itu dibutuhkan pendekatan khusus, tepat dan pribadi.
Ojo disindiri saja. Dulu, memang ada Abu Jahal, Abu Lahab, Abu Sufyan dan abu-abu yang lain. Ya, mudah-mudahan tidak ada pewarisnya. (*)
Penulis:
KH Mustain Syafii, Mudir PP Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang
Editor : Ainul Hafidz