Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Kalam Jumat: The Furniture (16)

Ainul Hafidz • Jumat, 9 Mei 2025 | 14:48 WIB
Rubrik opini KH Mustain Syafii.
Rubrik opini KH Mustain Syafii.

PESAN global dari surah al-Ma’un ini sangat mengerikan, membuat orang beriman yang selama ini merasa keimanannya sudah mapan dan diyakini sudah benar mesti mengkoreksi kembali.

Salah satu tesis mengerikan itu: ’’Kenapa Gusti Allah SWT mengutuk orang beriman yang tidak punya kepedulian sosial terhadap sesama manusia, bahkan disebut sebagai pendusta agama. Yukazzib bi al-din.’’

Ini diungkap lebih dahulu, baru ngomongno orang mukmin yang salat tapi masuk neraka, Wail. Kiro-kiro begini karepe Gusti Allah:

Pertama, bahwa keimanan itu memang didasari dengan beriman kepada Allah SWT  dan itu mutlak.

Termasuk kepada para utusan dan yang gaib-gaib, akhirat, surga dan neraka.

Ya, tapi itu kan sekadar kerja keyakian yang tidak ada manfaatnya bagi orang lain. Manfaate digawe awake dewe. Lagian, itu urusan iman kurikulum langit.

Kedua, bagi Gusti Allah, itu sangat tidak cukup dan harus dilengkapi dengan keimanan berkurikulum bumi, bersillabi lingkungan, kerja sosial dan kepedulian terhadap sesama manusia.

Orang miskin, fakir, anak yatim adalah keluarga Tuhan. Siapa peduli mereka berarti menjadi keluarga Tuhan.

Dan siapa yang tidak, ya tidak. Terus.. yang tidak diakui sebagai keluarga Tuhan, apa mungkin kelak di akhirat disapa Tuhan..? ’’Pasti gak ngara direken karo Gusti Allah.’’

Makanya, dua kurikulum keimanan ini harus dipenuhi, bahkan yang bersillabi bumi, perhitungannya sangat detail, jelimet dan tajam.

Tidak hanya itu, Tuhan tidak mau campur tangan, justru diserahkan kepada yang bersangkutan.

Punya utang, gak mbayar. Di akhirat ditagih. Penghalalan mutlak opo jare yang diutangi.

Saat Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam santai bersama sahabat, ada janazah dan seseorang  meminta Nabi mensalati.

Nabi bertanya: ’’Apa dia punya utang?’’ Mereka menjawab: ’’tidak.’’

Rasul mulia itu berkenan mensalati. Lalu datang janazah kedua, beliau melakukan hal yang sama.

Kemudian datang janazah ketiga yang ternyata masih punya utang dan belum lunas.

Nabi tidak mau mensalati. Begitu ada yang sanggup menanggung, baru Nabi berkenan mensalati.

Setelah salat dawuh: ’’Al an, waqad baridat..’’ Sekarang, suhu badan si mayit ini telah dingin kembali.

Jadi, orang punya utang dan belum lunas, kok mati, kulitnya meloncot, melempuh.

Termasuk yang ngambil milik orang lain secara tidak halal. Apalagi koruptor yang maling uang negara, siapapun dia, apalagi sekedar pernah menjadi menteri agama.

Sejak di kuburan, sudah dibakar. Sangat sulit rasanya masuk surga. (bersambung, in sya Allah).

 

Penulis:

KH Mustain Syafii, Mudir PP Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang

Editor : Ainul Hafidz
#Tebuireng #KH Mustain Syafii #salat jenazah #Jumat #kalam #Jombang #furniture #rubrik