Al-ladzin hum yura’un. Ciri pendusta agama selanjutnya adalah suka pamer, show only.
Namanya pamer pasti ada maunya, apalagi kalau bukan pujian dan sanjungan, meskipun sejatinya dia tidak pantas dipuji dan disanjung.
Dan obyek yang dipameri adalah sesama manusia. Bagi si pamer, mereka tidak memandang Tuhan sebagai Dzat yang Maha Agung dan maha segala yang mesti dipameri.
Selain karena tidak terlihat, reward-Nya tidak langsung bisa dirasakan.
Maka Tuhan ditinggalkan dan memilih komunitas manusia yang responnya, pujiannya, sanjungannya langsung bisa dinikmati.
Andai Tuhan ditanya, kok sebegitu sewot-Nya terhadap orang yang suka pamer, sehingga digolongkan sebagai pendusta agama, yukadz-dzib bi al-din..?.
Kira-kira jawaban Tuhan begini:
Pertama, ya iya lah. Tentu saja Kami tidak menganggap si pamer itu sebagai orang yang sungguhan beriman secara totalitas.
Hal itu karena masih ada pihak lain yang ia ’’imani’’, dia minati, dia inginkan pengakuannya, dia harap pujiannya dan seterusnya.
Sementara Kami disingkur tak dihiraukan. Padahal, yang Maha Kuasa Siapa..? Aku atau mereka..?
Lalu Tuhan mengolok dan balik bertanya, ’’Bayangkan, andai dan sekali lagi andai, kamu sendiri yang menjadi Tuhan, lalu melihat hambamu yang kamu ciptakan, kamu fasilitasi dengan berbagai nikmat dan rahmat yang tidak terhingga, ada kesehatan, ada limpahan rezeki dan lain-lain, lalu mereka berpaling dan membelakangi kamu.
Baca Juga: Kalam Jumat: Ramadan (3)
Bagaimana perasanmu..?
Kedua, tentu saja Kami (Allah SWT) tidak mau merespons amal kebajikan si pamer tersebut, tidak juga Kami mau memberi pahala baginya.
Hal itu jelas, karena amal kebajikan tersebut tidak diperuntukkan buat Kami, melainkan untuk yang selain Kami.
Apakah fair, jika sebuah hadiah dipersembahkan untuk orang lain, lalu kamu yang harus berterimakasih..?
Dari sini, maka ada amal saleh yang diridai Tuhan, yang disukai dan diterima dan diberi balasan pahala, dan ada juga amal saleh yang tidak dinilai, tentu saja tidak mendapat apa-apa.
Contoh konkret adalah bingkisan, parsel menjelang pemilihan umum, pilkada dan sebangsanya.
Amalnya sih jelas saleh, jelas bagus. Lha wong sedekah kok tidak bagus gimana..? Pasti bagus. Tapi apakah Tuhan suka, apakah Tuhan merestui itu..?
Mendapat pahalakah, sedekah macam itu..?
Yang jelas Tuhan sudah membayar sedekah tersebut saat di dunia, seperti jika dia menang, berhasil dalam kompetesi tersebut.
Soal pahala di akhirat..? Lho wong si pemberi bingkisan sendiri tidak menginginkan kok..? (*)
Editor : Ainul Hafidz