JombangBanget.id - Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik tentang pentingnya mempercayakan diri pada bimbingan Tuhan.
’’Orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru : mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya, mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah,’’ tuturnya mengutip Yesaya 40:31.
Untuk bisa berenang atau mengapung di atas air kita harus memahami prinsip ini.
Apa rahasia untuk orang yang belajar berenang? Bukankah semua benda yang ditaruh di atas air bila berat jenis lebih besar dari air, pasti tenggelam.
Bagaimana mungkin dengan berat badan yang tidak ringan, seseorang bisa mengapung di air, bahkan bergerak maju dengan berbagai macam gaya?
Satu prinsip awal berenang ialah belajar percaya pada air. Jika kita menyerah pada air, tubuh kita akan mengapung.
Sebaliknya jika kita melawan air, mengencangkan otot-otot sampai kaku, kita malah tenggelam.
Itulah rahasianya saat belajar berenang, yaitu mempercayakan diri kepada air.
Ayat bacaan di atas, melukiskan tentang rajawali yang membubung tinggi.
Rajawali memang suka terbang tinggi, seperti yang dilukiskan di beberapa ayat di Perjanjian Lama.
Ia terbang dan membuat sarang di ketinggian (Yeremia 49:16, Obaja 4).
Baca Juga: Renungan Minggu: Melibatkan Tuhan Dalam Segala Hal
Ia bisa naik ke gunung Libanon, mengambil puncak pohon aras yang tinggi sekali (Yehezkiel 17:3).
Padahal di ketinggian angin berhembus lebih kuat. Apa yang membuat rajawali dapat terbang dengan begitu ringan dan tenang? Rupanya ia punya cara jitu.
Daripada melawan angin, ia memanfaatkannya untuk bergerak bersama tiupan angin. Ia mempercayakan diri pada dorongan angin untuk maju.
Jadi sebenarnya ia bukan terbang, melainkan melayang di ketinggian. Melayang bukan dengan kekuatannya sendiri, melainkan dorongan angin.
Tatkala angin kesulitan hidup menghantam, apakah tanggapan kita? Mengeluh, mengaduh, geram, marah, berteriak, menuduh orang lain, menyalahkan Tuhan?
Itu yang lazim terjadi. Kita melawannya dengan kekuatan sendiri. Itu tanggapan atau reaksi yang sia-sia.
Kita akan kelelahan, terengah-engah, kehabisan tenaga dan frustrasi. Kesulitan yang kian besar justru harus menjadi kendaraan kita untuk kian berserah, mempercayakan diri pada bimbingan Tuhan.
Izinkan Roh-Nya membawa kita melayang di tengah embusan angin persoalan.
’’Ketika tantangan hidup membesar, perbesarlah kepercayaan kita kepada-Nya. Nantikan Tuhan, ikuti kehendak-Nya dan percayakan diri pada bimbingan Tuhan, maka kita akan dibawa Tuhan terbang tinggi mengatasi badai kehidupan. Tuhan Yesus memberkati,’’ urainya. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz