DULU, ayah saya berkisah bahwa mbah Kiai Romly Tamim pernah dawuh: “Sopo sing sedino mangan pisan iku derajate wali, nek ping pindo menungsa biasa, nek ping telu cancangen nang mburi”
(Barang siapa yang sehari makan sekali adalah laksana wali, bila dua kali manusia normal, bila tiga kali ikatlah di belakang).
Filosofi pesan itu sesungguhnya sebuah anjuran agar kita tidak menjadikan sesuatu yang bersifat fisik, makanan, fasilitas kebendaan sebagai prasyarat tercapainya suatu harapan atau kemuliaan.
Jangan sampai kita berpola pikir bahwa untuk menjadi orang berilmu, maka asupan gizi / nutrisi harus cukup dan media pembelajaran harus lengkap.
Oleh karena itu, ketika saat ini pemerintah berupaya memenuhi janji kampanyenya dengan mengimplemantasikan program MBG ( Makan Bergizi Gratis ), saya ingin menyampaikan opini pribadi dengan sudut pandang santri.
Begini. Dari dosen ilmu Kesehatan di Unipdu, saya pernah dengar bahwa asupan nutrisi yang cukup dan seimbang sangat penting untuk mendukung kesehatan dan perkembangan fisik seseorang.
Nutrisi yang baik membantu dalam pertumbuhan optimal, memperkuat sistem kekebalan tubuh, dan mencegah berbagai penyakit.
Santri yang mendapatkan makanan bergizi setiap hari akan memiliki energi yang cukup untuk menjalani kegiatan sehari-hari, mulai dari mengaji, belajar, hingga berolahraga.
Tanpa asupan nutrisi yang memadai, mereka berisiko mengalami malnutrisi yang dapat memengaruhi pertumbuhan dan kesehatan jangka panjang.
Makanan bergizi juga memiliki dampak langsung terhadap kinerja akademik seseorang.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa nutrisi yang baik dapat meningkatkan fungsi kognitif, daya ingat, dan konsentrasi.
Baca Juga: Gus Zu'em: Selamat Tinggal Tahun Perseteruan
Maka diharapkan, santri yang mendapatkan asupan gizi seimbang lebih mampu fokus dalam belajar dan menyerap pelajaran dengan lebih baik.
Sebaliknya, kekurangan gizi dapat menyebabkan penurunan kinerja akademik, kelelahan, dan ketidakmampuan untuk berkonsentrasi selama proses belajar.
Begitu kira-kira penjelasan yang pernah saya dengar.
Mengacu pendapat di atas, tampak sekali betapa signifikan pengaruh asupan gizi pada kualitas kesehatan santri.
Secara biologis, phisik dan medis, bisa saya terima. Memang begitulah dalil “syariat” ilmu kesehatan.
Akan tetapi jika kemudian dikaitkan dengan meningkatnya semangat belajar dan daya juang mengkaji ilmu, saya kurang sepakat.
Apalagi jika dipandang dari konsep riyadoh di dunia pesantren yang mengharuskan pelakunya mengurangi kenikmatan duniawi demi meraih ilmu sejati.
Riyadoh adalah praktek pengendalian diri untuk mendekatkan diri pada Allah dengan amaliah tertentu agar memperoleh keberkahan dan kebahagian lahir-bathin.
Oleh karena itu, ketika pemerintah menggaungkan program MBG, tidak sedikit pesantren yang bersikap biasa-biasa saja.
Tidak kemudian karena memiliki santri ribuan, lalu bergerak menuntut pemerintah untuk segera dilaksanakan di pesantrennya.
Banyak pesantren yang masih wait & see menunggu matangnya mekanisme atau skema pelaksanaannya.
Mengingat program ini baru pertama kali dilaksanakan di Indonesia.
Dulu, kami sempat berfikir bahwa jika MBG ini dilaksnakan di Darul’Ulum, maka kami cukup meberdayakan kantin-kantin sekolah-madrasah sebagai penyedia makanannya.
Dengan demikian kantin di tiap sekolah bisa berkembang dengan merekrut tenaga baru dari masyarakat sekitar sekolah.
Tapi ternyata tidak seperti itu. Informasi yang saya pahami, nanti ada unit SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang merupakan dapur pengolah makanan dengan kapasitas 3.000-4.000 porsi.
Di tiap SPPG tersebut terdapat 3 ASN dari Badan Gizi Nasional, yang bertugas untuk memastikan kelancaran rantai pasok bahan makan yang akan diolah.
Memastikan dapur beroperasi normal dan memastikan kecukupan gizi makanan yang dikirim ke murid.
Yang menarik, ketika program MBG masih dalam proses, banyak pesantren (termasuk Darul’Ulum) didatangi orang-orang yang menawarkan jasa untuk merealisasikan program tersebut di pesantrennya.
Mereka bisa mengaku dari ormas, utusan orang dalam BGN ( Badan Gizi Nasional ), parpol , koperasi tantara, dll.
Ujung-ujungnya, kami diminta untuk modal investasi pembangunan SPPG dan diyakinkan investasi itu akan kembali bila dapur tersebut sudah beroperasi.
“Hebat”nya para “brooker” itu sudah punya daftar bank yang bisa dihutangi oleh pondok untuk urusan MBG.
Ini berarti, biaya pembangunan dapur akan ditutup dari “keuntungan” menyediakan makanan untuk santrinya sendiri.
Tentu suatu yang sangat ironis. Bisa-bisa mestinya santri kami menerima lauk sepotong ayam, tapi karena di pikiran kami harus mengangsur hutang, akibatnya ayam menjelma jadi separuh telor. Jelas, hak santri terkurangi.
Akhirnya, agar kami tetap fokus pada ikhtiar mendidik santri yang menjadi tanggung jawab utama kami, maka untuk mendukung program tersebut, telah kami sampaikan kesiapan 3 bidang lahan pada BGN.
Dengan penawaran sewa untuk pendirian SPPG. Kami telah mempercayakan urusan ini pada orang yang sudah biasa kami amanati.
Pesan kami padanya: santri harus menerima haknya sesuai yang semestinya. Salam Sehat Penuh Rahmat. (*)
Editor : Ainul Hafidz