JombangBanget.id – Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak di Kabupaten Jombang semakin meluas.
Dinas Peternakan Kabupaten Jombang mencatat hingga pertengahan Januari ditemukan sebanyak 536 kasus.
Ironisnya, sebanyak 23 ekor sapi di antaranya mati, dan 65 ekor lainnya dilakukan potong paksa.
Plt Kepala Dinas Peternakan Jombang Mochamad Saleh tak menampik persebaran kasus PMK di Jombang terus meluas dan tersebar di 21 kecamatan.
Melihat perkembangan data saat ini, kondisi persebaran wabah PMK di Jombang memang cukup mengkhawatirkan.
’’Saat ini ada 536 kasus. Dengan rincian, 23 ekor sapi mati dan 65 dipotong paksa, serta 254 masih dalam kondisi sakit. Kemudian ada 193 dinyatakan sembuh,” ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Pihaknya akan terus melakukan pemantauan ke seluruh peternak maupun pasar hewan yang ada di Jombang.
’’Pemantauan ini salah satu upaya dari Pemerintah Kabupaten Jombang, khususnya dinas peternakan, untuk melakukan pencegahan sedini mungkin. Jika sudah terjadi penyakit seperti ini, kami akan melakukan pengobatan intensif dan vaksinasi lengkap kepada sapi peternak,’’ paparnya.
Sementara itu, makin meluasnya kasus penyakit mata dan kuku (PMK) pada hewan ternak di Jombang membuat pedagang daging ikut waswas.
Penjualan maupun harga daging bakal turun. Itu berdasarkan pengalaman kasus serupa 2022 lalu.
Salah satunya diungkapkan pedagang daging di Pasar Pon Jombang.
Baca Juga: 11 Ekor Sapi di Jombang Mati Terjangkit PMK, Dinas Peternakan Bilang Begini
”Sekarang masih normal, mungkin karena kasusnya baru muncul,” kata Irfantoro salah seorang pedagang, Minggu (12/1).
Harga daging sapi saat ini, lanjut Irfan, masih cenderung stabil. Per kilogramnya Rp 105 ribu.
”Mudah-mudahan sampai nanti tidak turun seperti dulu,” imbuh dia.
Dia lantas mencontohkan kasus serupa pada 2022, baik harga daging maupun penjualan turun.
”Waktu dulu ada PMK penjualan turun drastis sampai separo,” ujar lelaki berusia 43 tahun ini.
Hal serupa juga diungkapkan Mulyanto, pedagang daging lainnya. Meski saat ini penjualan masih normal, dia bersama pedagang daging dihantui terjadi penurunan daya beli.
Penyebabnya menurut dia, masyarakat enggan mengonsumsi daging sapi.
”Biarpun penyakitnya ke kuku dan mulut, bagi orang-orang awam ini istilahnya takut makan daging sapi,” tutur dia.
Dampak yang dirasakan kala itu justru lebih terasa dibanding saat pandemi Covid-19.
”Lebih baik pas korona (Covid-19), itu masih laku. Karena bisa dijual online, ketika sudah kena PMK itu susah,” kata Mulyanto. (fid/naz)
Editor : Ainul Hafidz