JombangBanget.id - Pengasuh PP Darul Ulum Rejoso sekaligus Dewan Pertimbangan MUI Jombang, KH Cholil Dahlan, menjelaskan bahaya tak malu berbuat maksiat.
’’Sahabat Umar bin Khattab radiyallahu anhu berkata; Orang yang banyak kesalahan ucapannya maka sedikitlah rasa malunya. Orang yang sedikit rasa malunya maka sedikit sifat wirainya. Orang yang sedikit sifat wirainya maka mati hatinya,’’ tuturnya.
Ahli hikmah berkata: Orang yang menggunakan rasa malu sebagai bajunya maka manusia tidak akan melihat aibnya.
Cahaya wajah itu bergantung sifat malunya. Sebagaimana hidupnya tanaman itu bergantung airnya.
Syekh Sholih bin Abdul Quddus berkata; Jika sedikit air wajah maka sedikit rasa malunya.
Dan tidak ada kebaikan pada wajah jika sedikit airnya. Rasa malumu jagalah olehmu. Karena orang mulia akan selalu memiliki rasa malu berbuat maksiat.
Orang yang sedikit rasa malunya maka sedikit sifat wara atau wirainya.
Wara adalah menjauhi perkara-perkara syubhat (belum jelas halalnya) karena takut terjerumus dalam perkara-perkara yang diharamkan.
Dan orang yang sedikit sifat wara'nya maka matilah hatinya. Sehingga tidak bisa menerima nasihat.
’’Padahal semua yang ada di sekeliling kita dan semua yang mengenai diri kita itu adalah nasihat dari Allah subhanahu wa ta’ala,’’ terangnya.
Sebagaimana disebutkan dalam QS Fussilat 53.
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri.
Alkisah, adalah ulama melihat daun berguguran. Melihat itu, dia langsung menangis.
Dia merasa diingatkan oleh Allah SWT bahwa kematian bisa datang kapan saja dan usia berapa saja.
Sebagaimana daun-daun yang gugur itu ada yang tua dan ada yang muda.
Sebaliknya, orang yang hatinya mati, meski maksiat tidak pernah malu.
Diingatkankan juga tidak menggubris. Contohnya siswa yang senang dengan siswi. Meski ada gurunya tetap saja melihat ke arah siswi.
Bahkan meski ada gurunya, tetap saja berdekatan dengan siswi. Gurunya dianggap seperti cagak.
Perilaku seperti itu menunjukkan hati yang keras.
’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Cara mengobati hati yang keras yakni dengan membaca Alquran dan mengingat mati,’’ paparnya.
Makanya santri di pesantren dibiasakan membaca Alquran. Santri juga sering diajak ziarah kubur agar mengingat mati.
Saat lewat depan kuburan juga diajari mengucapkan salam kepada ahli kubur. Ini agar ingat mati.
Orang yang hatinya bersih, akan selalu bisa menerima nasihat dari Allah SWT.
Dia bisa mengingat Allah SWT dalam segala kondisi. Sebagaimana disebutkan dalam QS Ali Imron 191.
Ulul albab yaitu orang-orang yang mengingat Allah SWT sambil berdiri, duduk dan dalam keadaan berbaring.
Warga toriqoh dibimbing zikir dengan kaifiyah dan haiah tertentu agar zikir mudah masuk ke dalam hati.
Jika zikir sudah masuk ke hati, maka hati akan lembut sehingga mudah menerima nasihat.
Serta senang membaca Alquran dan selalu ingat Allah SWT dalam segala kondisi. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz