Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Pemberontakan PKI di Jombang Tahun 1948

Ainul Hafidz • Kamis, 19 September 2024 | 05:29 WIB
Fathoni Mahsun, penulis novel Perang Jombang
Fathoni Mahsun, penulis novel Perang Jombang

Oleh: Fathoni Mahsun[1]

Tanggal 18 Bulan September 1948 terjadi goro-goro besar di negeri ini, yang notabene ketika itu baru merdeka, yaitu pendeklarasian negara Soviet di Madiun, dengan demikian ini adalah kudeta, aktornya adalah FDR/PKI.

Walaupun terjadi di Madiun, bukan berarti Jombang aman-aman saja.

Jombang juga terancam. Bagaimana Jombang terusik peristiwa Madiun ini?, kita akan runut pelan-pelan.

Selain Madiun PKI juga mengembangkan basis nya ke selatan dan barat, yaitu Pacitan, Trenggalek,  Tulungagung, Ngawi, Boyolali, Purwodadi, Bojonegoro hingga Pati. Melingkar sampai ke Magelang, Klaten Solo, dan Wonogiri.

Madiun sendiri sebagai pusatnya. Mereka mengembangakan pengaruh di daerah-daerah tersebut baik dengan cara sukarela maupun dengan paksaan.

Semua kalangan dirangkul; bromocorah, perampok, maling, warok, seniman ludruk, dan lain-lain.

Terkecuali kalangan relijius (Masyumi, tahun 1948 partai Islam hanya ada satu Partai Masyumi), dan nasionalis (PNI), karena mereka adalah musuh yang menghalangi tersebarnya ideologi Marksis yang mereka kembangkan.

Persebaran FDR/ PKI yang begitu masif  ini didalangi oleh Amir Syarifudin, dan Muso. Amir Syarifudin adalah mantan perdana menteri yang kemudian menyerahkan kembali jabatannya pada Presiden Sukarno, setelah misinya menguasai pemerintahan gagal.

Secara diam-diam, Amir mempunyai rencana merebut pemerintahan, termasuk melalui rencana Pendidikan Politik Tentara (PEPOLIT) nya.

Sedangkan Muso adalah petinggi pimpinan PKI yang  setelah melihat perkembangan situasi, merubah haluan partai, dari bekerjasama dengan Presiden dan kompromi dengan Belanda, menjadi konfrontatif terhadap Presiden dan Belanda.

Baca Juga: Sejarah Sekolah Era Kolonial Belanda di Jombang, Mulai ELS hingga Normaalschool Djombang

Muso juga orang yang menginisiasi bergabungnya tiga Partai berhaluan Marksis; Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Sosialis Indonesia (PSI), dan Partai Buruh Indonesia, menjadi Front Demokrasi Rakyat (FDR). Cuma karena para petinggi FDR adalah orang PKI maka masyarakat mengidentikkan FDR dengan PKI.

Pada bulan agustus 1948 ketika kondisi sudah dianggap matang, Amir dan Muso melakukan puncak agitasinya, yaitu dengan menyelenggarakan rapat umum dengan menghadirkan puluhan ribu masa di Madiun, Trenggalek dan beberapa kota lainnya.  Menurut Mun’im DZ dalam bukunya Benturan NU-PKI 1948-1965, rapat umum itu dimaksudkan sebagai show of force bahwa FDR/ PKI telah siap mengambil alih pemerintahan Indonesia.

Namun tidak semua massa yang datang tersebut adalah orang PKI, mereka memobilisir penduduk desa yang tidak tahu apa-apa dengan cara paksaan.

Beberapa bulan sebelum agustus tersebut situasi di Madiun dan sekitarnya begitu mencekam, sering terjadi perampokan dan pencurian, bahkan pemerkosaan, tidak hanya malam hari, tapi juga siang hari.

Sasarannya adalah tokoh agama, tokoh Masyumi, tokoh  NU, dan orang kaya yang sudah haji. Kalau ingin selamat maka jangan dekat dengan tokoh agama, dekatlah dengan tokoh PKI/ FDR.

Untuk menguatkan moral dan menunjukkan keteguhan tokoh-tokohnya, Masyumi menyelenggarakan Muktamar ke tiga di Madiun pada 27-31 Maret 1948.

Tentu hal ini bukan tanpa resiko. Intimidasi, dan ancaman penyerangan di depan mata. Muktamar serupa juga pernah diadakan oleh NU, pada 24 Mei 1947.

Mendengar Masyumi akan menyelenggarakan Muktamar, Resimen 293 yang notabene berasal dari Lasykar Hisbulloh merapat ke Madiun untuk mengawal penyelenggaraan Muktamar.

Resimen 293 juga mendapat bantuan dari Hisbulloh Madiun dan Solo.

Walaupun dalam posisi siaga, tapi Resimen 293 dan Hisbulloh sebenarnya tidak menginginkan pertumpahan darah, oleh karenanya yang dilakukan adalah perang urat syaraf (psy war) dengan memamerkan senjata berat yang dipunyai resimen 293, yaitu empat buah senjata kaliber 12,7 yang digelar di depan masjid Madiun.

Ketika itu tidak semua resimen mempunyai senjata berat. Resimen 293 memang spesialisasinya adalah pasukan tempur (Mobil Trop).

Komandan Resimen 293 adalah Mayor Mansyur Solichy, merupakan bagian dari Brigade 29 yang dikomandani Kolonel M. Dachlan.

Selain resimen 293, anggota Brigade 29 adalah Resimen 291 dengan komandan Sidik Arselan, Resimen 292 dengan komandan Sumarsono, dan Resimen 294 dengan komandan Mustofa.

Brigade 29 yang dipimpin oleh M Dachlan ini sudah terafiliasi dengan PKI/FDR, kecuali 293 yang barasal dari Lasykar Hisbulloh.

Resimen 292 yang dipimpin oleh Sumarsono berasal dari Lasykar Pesindo, kelak manjadi ujung tombak kudeta yang juga disebut coup Madiun.

Tidak lama setelah Muktamar Masyumi, Brigade 29 mengadakan rapat di Kediri, membahas  pembagian wilayah operasi masing-masing resimen. Resimen 291 di Madiun, Resimen 292 di Kertosono, Resimen 293 di Ngawi, dan Resimen 294 di Saradan.

Tetapi Resimen 293 menolak ditempatkan di Ngawi, kalau memang dipersiapkan menghadapi Belanda, Mansur Solichy sebagai komandan Resimen meminta ditempatkan di Surabaya.

Untungnya permintaan ini diterima.

Mansyur Solichy mengajukan permintaan tersebut, karena sudah mendapat informasi bahwa Madiun akan dijadikan pusat kudeta. Apabila menerima penempatan di Ngawi maka kemungkinan Resimen 293 akan hancur total karena akan digempur dari dua jurusan.

Dari barat oleh pasukan yang ditugaskan pemerintah untuk membasmi PKI, yaitu Devisi Siliwangi dengan komandan Gatot Subroto, dan dianggap Resimen 293 membentengi PKI.

Juga dari timur oleh resimen-resimen yang menggabung ke PKI, dalam rangka melawan gempuran yang dilakukan oleh Devisi Siliwangi.

Selanjutanya Resimen 293 meninggalkan posnya untuk menuju ke Surabaya.

Tapi tidak langsung ke Surabaya, mereka menahan diri dulu di Jombang, sebab bila PKI bergerak terlebih dahulu sebelum Belanda menyerang Jogja, Resimen 293 bisa mengamankan Jombang, karena Jombang banyak pesantren dan tokoh Islam.

Dua hari sebelum peristiwa Madiun meletus, Mayor Mansur Solichy menghadap Panglima Devisi III Kolonel Sungkono yang bermarkas di Kediri.

Mansyur Solichy meminta Kolonel Sungkono menangkap Komandan Brigade 29 dan tokoh-tokoh PKI, sebagai upaya penggagalan Coup.

Sungkono berpendapat bahwa tidak mungkin resimen 291 dan 294 tega menikam teman sendiri, karena mereka dilatih dalam kepanduan yang sama.

Kata Mansyur, mereka sekarang bukan anggota kepanduan lagi, tapi pasukan yang memegang senjata dan berafiliasi dengan PKI.

Sungkono akhirnya tidak meloloskan permintaan penangkapan tersebut, dan dua hari kemudian coup Madiun meletus.

Pemerintahan baik sipil maupun militer Madiun direbut oleh PKI/FDR, melalui ujung tombaknya yaitu pasukan Resimen 292 yang dikomandani Sumarsono.

Setelah Madiun bisa dikuasai sepenuhnya, Muso-Amir Syarifudin datang.

Pada 19 september 1948, melalui radio Presiden Sukarno menyampaikan pidatonya, di antara isi pidato itu adalah memberikan pilihan rakyat Indonesia memilih Muso-Amir atau Sukarno-Hatta.

Setelah pidato Presiden Sukarno, Mansyur memerintah salah satu komandan kompinya, Kapten Rodhi As’ad melakukan siaran di radio RRI Surabaya yang berada di Jombang, bahwa Resimen 293 memisahkan diri dari Brigade 29.

Kapten Rodhi berikutnya juga diperintahkan menghadap Letkol Kretarto untuk meminta surat perintah penumpasan PKI di Jombang.

Letkol Kretarto menolak karena belum ada perintah dari komandan Devisi, Kolonel Sungkono.

Ketika tiba di Jombang pukul 23.00, Mayor Mansyur Solichy memerintah kembali Kapten Rodhi untuk menghadap Letkol Kretarto dengan tujuan sama, meminta surat perintah penumpasan PKI.

Apabila tidak dikasih Kapten Rodhi diperintah menangkap Letkol Kretarto, sebab mereka harus bertindak segera mungkin, karena PKI akan melakukan pembakaran pondok-pondok pesantren, masjid-masjid, dan membunuh para Kyai pada pukul 03.00 dini hari.

Surat perintah akhirnya diberikan, dan Resimen 293 segera bertindak pada pukul 01.00 mendahului PKI, dengan membekuk para petinggi PKI/FDR.

Walhasil gerakan PKI/FDR di Jombang gagal. Para petinggi TNI cenderung canggung mengambil tindakan-tindakan antisipisi gerakan PKI/FDR, bisa kita pahami karena sebenarnya mereka adalah teman dan saudara sendiri yang pernah ditempa di kawah condrodimuko yang sama.

Sedangkan resimen yang berasal dari irisan Hisbulloh lebih mempunyai inisiatif karena sejak dari idiologinya sudah bertentangan dengan idiologi marksis yang dipegangi PKI/FDR.

Namun kekhawatiran Mansyur Solichy juga tidak bisa dikesampingkan, karena di Jombang Pesindo mempunyai kedudukan kuat.

Bekas markas Pesindo sampai sekarang masih bisa kita saksikan, yaitu di gedung berbentuk hexagonal depan Kodim Jombang agak selatan sedikit.

Selain itu, Muso dalam buku Sejarah Perjuangan Rakyat Bersenjata Kabupaten Jombang Tahun 1945-1949, terindikasi pernah menyelenggarakan rapat di Ploso.

Dalam buku tersebut terdapat juga catatan anggota ALRI di tawan di gedung bekas pabrik gula Ceweng. Bahaya sekali!

[1] Penulis Novel Perang Jombang

Editor : Ainul Hafidz
#opini #penulis #pemberontakan #perang #novel #Jombang #pki