Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Kalam Jumat: Kautsar (12)

Ainul Hafidz • Jumat, 23 Agustus 2024 | 15:25 WIB

 

Rubrik opini KH Mustain Syafii.
Rubrik opini KH Mustain Syafii.

’’Inn syani’ak huw al-abtar.’’ Siapa membencimu, justru dia yang sungguh-sungguh terputus.

Ada tiga kata kunci pada ujung surah ini. Pembenci, terputus dan sungguhan.

Latar belakang historisnya merujuk kepada pribadi Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam yang tidak mempunyai anak laki-laki sebagai penerus.

Mereka menyebutnya sebagai ’’abtar.’’

Tujuh anak beliau, empat perempuan dan tiga laki-laki, yakni: al-Qasim, Zainab, Ruqayya, Umm Kultsum, Fathima, Abdullah dan Ibrahim.

Semua anak laki-laki beliau wafat saat masih kecil. Orang-orang kafir berjingkrak karena tidak akan ada lagi penerusnya.

Ya, sebab tradisi jahiliyah pakai sistem kerajaan, di mana anak lelaki menjadi pewarisnya.

Abtar, putus. Bagi pandangan wong kafir, kenabian, dakwah Islam akan putus begitu Nabi wafat, karena tidak ada anak laki-laki sebagai penerusnya.

Dengan terma yang sama (abtar), Tuhan membalik, justru yang putus adalah usaha para pembenci Nabi (syani’ak).

Upaya mereka menghalangi dakwah islamiah dengan berbagai cara, termasuk cara kekerasan itulah yang justeru bakal putus. Bukan islamnya.

Dan ternyata benar, meskipun Rasulullah SAW tidak punya anak laki-laki, tetapi para sahabatnya hebat-hebat, militan dan ikhlas.

Lahirlah empat khalifah yang mengguncang dunia.

Lalu berlanjut dan berlanjut hingga sekarang.

Salah satu hikmah Rasulullah SAW tidak dikaruniai anak laki-laki yaitu untuk menghentikan pola kepemimpinan dinasti, sekaligus menumbuh kembangkan system syura, demokrasi yang sehat.

Bisa dibayangkan, jika beliau punya anak laki-laki, maka siapa yang berani mencalonkan diri menjadi pengganti?

Dikisahkan, Raja Kuwie memasuki usia sekarat. Agar dinastinya langgeng, dia menyonyol-nyonyolkan anaknya agar menjadi pemimpin dengan segala cara.

Sadis dan memaksa semua kacungnya, termasuk poro Resi lan Punjangga kudu manut lan mituhu. Padahal menurut ugeran, iku ora patut.

Akhirnya berhasil, najan rakyat gak sreg.

Itulah perbedaan antara Raja Kuwie dengan Kanjeng Nabi.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW sangat gigih dan ikhlas memperjuangkan Islam tanpa memproyeksikan anaknya menjadi penerus.

Sementara raja Kuwie ngoyo banget, sehingga terbaca sejauh mana keikhlasannya memimpin.

Semoga bukan pertanda akhir kepemimpinan yang su’ul khatimah. Nagaji surah al-Kautsar tamat dan bersambung, in sya’ Allah.

Editor : Ainul Hafidz
#KH Mustain Syafii #kekuasaan #muhammad #nabi #Jumat #kalam #Jombang