Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Binrohtal, Tidak Ada Kata Terlambat dalam Bertobat

Rojiful Mamduh • Kamis, 9 Mei 2024 | 15:30 WIB
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.

JombangBanget.id - Rois Syuriyah MWCNU Diwek, Jombang, sekaligus Pengasuh PP Falahul Muhibbin, Watugaluh, KH Nurhadi (Mbah Bolong) menjelaskan pentingnya hidup ingat mati.

’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Orang cerdas adalah orang yang menekan hawa nafsunya dan menyiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Rabu (8/5).

Mbah Bolong cerita, dulu ada perempuan yang sangat cantik di zaman Bani Israil. Perempuan ini menjadi pelacur.

Karena terkenal cantik, pelanggannya sangat banyak setiap hari.

Suatu ketika, seorang pemuda ahli ibadah lewat di depan rumahnya.

Ketika pemuda itu menoleh, dia langsung terpikat oleh kecantikan wanita di dalamnya.

Dalam hati, dia berjanji akan melakukan apapun demi mendapatkan wanita itu.

Si pemuda lalu menanyakan tarif untuk bisa tidur dengannya.

’’Tarifnya mahal, 10 dinar. Sekitar Rp 40 juta,’’ ucapnya.

Si pemuda bertekad akan bekerja keras demi mengumpulkan uang tersebut.

Singkat cerita, sang pemuda mulai meninggalkan tempat peribadatannya dan bekerja apa pun asal memperoleh uang.

Baca Juga: Binrohtal, Jasa Orang Tua Tak Akan Mampu Terganti

Siang malang tak dirasakannya. Berhari-hari, berminggu-minggu hingga hitungan bulan, sampai terkumpul uang lebih dari cukup.

Dia pun bergegas menuju rumah si perempuan. Sesampainya di dalam kamar, perempuan itu segera naik ke atas ranjang.

’’Apa yang kau lihat, lekaslah kemari!’’ Ajak wanita itu.

Sang pemuda kaget mendengar ajakannya. Napasnya memburu.

Dia mundur teratur ke arah pintu. Hatinya bergetar. Jiwanya berperang antara nafsu dan bisikan hatinya.

’’Biarkan aku pergi!’’ Kata lelaki ahli ibadah itu memohon.

’’A…..ku takut kepada Allah.’’ Kata si pemuda yang membuat si wanita tertunduk.

Selama menjalani pekerjaannya, dia belum pernah mendapati tamu aneh seperti itu.

Si wanita berpikir, kalau lelaki itu belum berbuat apa-apa sudah takut kepada Allah SWT, kenapa dia yang telah berlumuran noda dan dosa tidak merasakan apa yang pemuda itu rasakan.

’’Sungguh, dosaku telah bertumpuk-tumpuk,’’ katanya lirih.

Dalam hati wanita itu berniat akan bertobat dan menjalani kehidupan yang normal.

Si pemuda pergi tanpa mengambil kembali uang pembayaran yang telah diberikan.

Baca Juga: Binrohtal, Memaafkan Jadi Tanda Orang yang Cerdas

Sejak saat itu, si wanita meninggalkan segalanya. Harta melimpah dan kenikmatan dunia ia tanggalkan semuanya demi mencari rida dan ampunan dari-Nya.

Dia keliling mencari pemuda tadi agar bisa menikah dengannya.

Saat ketemu rumahnya, ternyata si pemuda telah wafat. Si wanita lantas menikah dengan adiknya dan melahirkan keturunan yang menjadi nabi Bani Israil.

’’Tidak ada kata terlambat dalam bertobat. Jangan sampai berputus asa oleh tumpukan dosa,’’ pesan Mbah Bolong.

Jika ada orang berkata, ’’Aku ingin bertobat, namun dosaku terlalu banyak.’’ Allah menjawab kalimat tersebut di dalam QS Azzumar 53.

Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.

Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Belajar dari sikap pemuda tadi, semestinya kita berpikir dua kali saat ingin berbuat dosa.

Sementara, di sisi lain, masih banyak orang yang enggan bertobat karena merasa sok suci.

Padahal Allah SWT telah mengingatkan orang semacam itu dalam QS Annajm 32.

Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui orang yang bertakwa.

Ibnu Mas’ud radiyallahu menyatakan; Orang beriman melihat dosanya seolah-olah dia sedang duduk di bawah gunung.

Ia takut gunung itu akan menimpanya. Namun orang yang sombong menganggap dosanya ibarat seekor lalat yang terbang melewati hidungnya kemudian ia mengusirnya. (jif/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#Ada #tidak #Mbah Bolong #kata #hidup #Berobat #masjid #ingat #Terlambat #Binrohtal #polres #Jombang #mati