JombangBanget.id - Mudir Ma’had Aly Tebuireng, Jombang, KH Achmad Roziqi, menjelaskan besarnya jasa kedua orang tua.
Sehingga anak tak akan pernah bisa membalasnya.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Seorang anak tidaklah mampu untuk membalas jasa orang tuanya.
’’Kecuali jika seorang anak itu menjumpai orang tuanya menjadi budak lalu ia membeli dan memerdekannya,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Kamis (2/5).
Padahal sekarang ini sudah tidak ada perbudakan.
Ustad Roziqi menjelaskan, Imam Bukhori adalah salah satu ulama hadis yang karyanya dinobatkan sebagai asoh al kutub bakda Alquran (kitab tersohih setelah Alquran), yaitu Jami' al Bukhori al Sohih.
Disamping karya hebat itu, beliau juga memiliki karya yang khusus berbicara tentang adab, yaitu al adab al mufrod.
Dalam al Adab al Mufrod, Imam Bukhori meletakkan adab seorang anak.
Yaitu kewajiban berbuat baik kepada orang tuanya di urutan pertama setelah muqoddimah.
Bab ini diawali dengan firman Allah SWT tentang kewajiban anak untuk memperlakukan orang tuanya dengan baik.
Sebagaimana disebutkan dalam QS Al Ankabut 8. Dan Kami wajibkan manusia berbuat kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya.
Baca Juga: Binrohtal, Memaafkan Jadi Tanda Orang yang Cerdas
Dan diantara tema ini, Imam Bukhori menulis tersendiri bab membalas jasa orang tua, mungkinkah?
Hadis pertama yang ditulis Imam Bukhori adalah riwayat Sayidina Abi Huroiroh.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Seorang anak tidaklah mampu untuk membalas jasa orang tuanya.
Kecuali jika seorang anak itu menjumpai orang tuanya menjadi budak lalu ia membeli dan memerdekannya.
’’Dari hadis ini kita belajar bahwa seorang anak selamanya tidak akan mampu membalas jasa orang tuanya," tuturnya.
Sekalipun ia telah memberikan uang yang banyak, membangunkan rumah yang megah dan membelikan kendaraan yang mewah sekalipun.
’’Jasa orang tua takkan mampu terganti,’’ urainya.
Lebih dari itu, suatu ketika, Sayiduna Abdullah bin Umar menyaksikan seorang laki-laki memanggul ibundanya keliling kakbah, tawaf seraya berkata: Aku adalah tunggangan ibuku.
Aku akan selalu mengantarnya dengan nyaman kemanapun ia pergi.
Kemudian lelaki itu bertanya kepada Sayiduna Ibn Umar: Jerih payahku ini sudahkah setara dengan jasa ibuku kepadaku?
Sayidina Ibn Umar menjawab; Belum sebanding! Kebaikanmu, jerih payahmu itu jika dibandingkan dengan satu tarikan nafas ibumu saat melahirkanmu belum sebanding.
Begitulah Allah SWT mewahyukan kepada RasulNya. Begitulah Rasul menyampaikan kepada para sahabatnya.
Baca Juga: Binrohtal, Hasil Tempaan Puasa Ramadan
Begitulah para sahabat mengajarkannya kepada generasi tabi'in.
’’Semoga kita semua menjadi anak yang berbakti,’’ ungkapnya. (jif/fid)
Editor : Ainul Hafidz