JombangBanget.id – Sebagai salah satu daerah penghasil gabah terbesar di Jawa Timur, budaya petani Jombang untuk menyisihkan sebagian hasil panen untuk kebutuhan sehari-hari masih terbilang minim.
Tak sedikit petani memilih jalan pintas menjual seluruh hasil panen kepada penebas.
Sehingga pada saat harga beras melonjak, para petani pun ikut kelimpungan.
Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Jombang M Rony mengatakan, pada 2023 pihaknya melakukan survei.
Hasilnya diketahui, dari total 77.614 petani, sebanyak 39.270 petani tidak mencadangkan pangan dari hasil panen di rumah.
”Ini yang cukup menarik di Jombang, karena dari 77.614 petani, 49 persennya tidak memiliki gabah di rumah. Artinya, banyak yang menjualnya langsung,” kata Rony.
Survei itu dilakukan oleh petugas pertanian lapangan (PPL) di seluruh kecamatan pada 2023.
”Survei kecil-kecilan ternyata fakta yang kita temukan begitu,” imbuh dia.
Menurut dia, persolan muncul saat harga jual beras melonjak. Tak sedikit petani turut serta merasakan naiknya harga beras.
”Ini kan lucu ketika beras mahal, petani juga ikut merasakan,” tutur Rony.
Karena itu, pihaknya terus mengampanyekan gerakan Moleh Nggowo Gabah.
Baca Juga: Pj Bupati Jombang Pastikan Tindak Tegas Penimbun Beras
Pihaknya ingin mendorong petani agar menyisihkan sebagian hasil panen untuk kebutuhan cadangan pangan di rumah.
”Karena sebetulnya tidak banyak. Misalnya, dalam satu keluarga ada empat orang itu menyisihkan 3-4 kuintal gabah akan cukup sampai musim berikutnya,” tutur dia.
Dengan begitu, lanjut Rony, ketika terjadi lonjakan harga beras, petani tak ikut terdampak.
”Mulai sekarang kita kampanyekan agar petani Moleh Nggowo Gabah,” kata Rony. (fid/naz)
Editor : Ainul Hafidz