JombangBanget.id - Pengasuh PP Darul Ulum Rejoso, KH Cholil Dahlan, menjelaskan selamat dan nikmat yang sempurna.
’’Selamat dan nikmat yang sempurna adalah ketika kita berbuat baik kepada manusia serta bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala,’’ tuturnya.
Puasa melatih kita menjadi orang yang seperti itu. Tujuan utama puasa adalah menjadikan kita orang bertakwa.
Sebagaimana disebutkan dalam QS Albaqarah 183. Jika kita melakukan puasa di siang hari, ditambah salat tarawih di malam hari, serta memperbanyak baca Alquran, maka kita akan meraih predikat takwa.
Saat puasa, kita merasakan lapar sebagaimana yang tiap hari dirasakan orang-orang miskin yang kelaparan.
Ini membuat kita lebih empati dan simpati kepada mereka. Sehingga akhirnya senang sedekah kepada orang miskin.
Senang memberi takjil dan buka kepada orang yang berpuasa. Ini membuat kita berbuat baik.
’’Agar mudah berbuat baik kepada orang lain, kita harus melihat semua orang lebih baik daripada diri kita,’’ terangnya.
Melihat orang yang lebih muda, kita berprasangka dia lebih baik. Karena dosanya lebih sedikit.
Melihat orang yang lebih tua, kita berprasangka dia lebih baik. Karena amal ibadahnya lebih banyak.
Melihat orang yang lebih alim, kita berprasangka dia lebih baik. Karena ilmunya lebih banyak.
Baca Juga: Toriqoh, Kisah Syaqiq Al-Balkhi tentang Zuhud
Melihat orang bodoh, kita berprasangka dia lebih baik. Karena dia bodoh, ketika berbuat dosa, dia dihukum lebih ringan.
Sedangkan kita yang tahu ilmu, ketika berbuat dosa, akan disiksa lebih berat.
’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Iman itu yang separo sabar, separonya lagi syukur,’’ jelasnya.
Sabar itu sendiri ada tiga bagian. Pertama, menahan hati dari benci.
’’Jangan sampai hati memendam rasa benci atau tidak suka. Hati harus selalu berusaha rida,’’ ungkapnya.
Kedua, menjaga lisan dari bicara buruk. Ketika hati sedang benci, tidak suka, atau berprasangka buruk, jangan diucapkan dengan kata-kata.
’’Karena niat buruk yang masih tersimpan dalam hati belum dicatat. Niat buruk baru dicatat menjadi dosa jika sudah muncul dalam bentuk perkataan atau perbuatan,’’ urainya.
Ketiga, menjaga anggota badan dari berbuat buruk. Orang yang sabar akan selalu bisa menahan diri sehingga tidak sampai berbuat buruk.
’’Ketika sedang benci, tahanlah mata dari melihat, telinga dari mendengar, mulut dari berucap, tangan dari berbuat dan kaki dari melangkah,’’ paparnya.
Sebab apapun yang kita lakukan dalam kondisi marah atau emosi, pasti akan kita sesali.
Warga toriqoh dibimbing zikir dengan kaifiyah dan haiah tertentu agar zikir mudah masuk ke dalam hati.
Jika zikir sudah masuk ke dalam hati, maka akan selalu bisa bersabar dan bersyukur.
Baca Juga: Toriqoh, Lima Hal Sunah yang Dipercepat
Serta bisa mengisi Ramadan dengan ibadah yang meningkatkan takwa serta banyak berbuat baik kepada sesama manusia. (jif/naz/fid)
Editor : Ainul Hafidz