JombangBanget.id - Wayang topeng Jatiduwur, Jombang memiliki karakteristik berbeda dengan kesenian lain semacam ludruk, gambus misri dan jaranan.
Ini menyangkut sifat keseniannya yang tertutup dan hanya diwariskan pada lingkup keluarga saja.
Selain itu, ada keyakinan terhadap sakralnya topeng, membuat tak sembarang orang bisa mengakses.
Praktis hal ini membuat kesenian dari Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Jombang ini menjadi sangat ekslusif.
Di sisi lain, kesenian ini rentan punah karena minimnya penerus.
Tercatat, setelah dibuat dan dirawat sendiri oleh pembuatnya Purwo, topeng yang kini berjumlah 33 buah ini masih tersimpan rapi dan tetap dalam kondisi prima.
Berdasar laporan disertasi tentang revitalisasi wayang topeng Jatiduwur karya Setyo Yanuartuti menyebutkan, setelah diwariskan ke putranya Sukro 1935, topeng-topeng ini kemudian diwariskan kepada putri Sukro yang bernama Paitah 1955.
Selama 13 tahun dirawat Paitah, topeng kembali berpindah tempat ke rumah Darjo yang juga sepupu Paitah pada 1968.
Selama 20 tahun dirawat Darjo yang sekaligus menjadi dalang, topeng beralih ke rumah Retijah, putri ke-5 Darjo.
Setahun kemudian Retijah meninggal dunia sehingga Rohman (anak Retijah) melanjutkan perawatan.
Namun karena merasa tak mampu, Topeng ini akhirnya diambil alih Sumarni sejak 1981 hingga saat ini diteruskan putrinya Sulastri Widianti sejak 2013 lalu.
Dalam perdalangan, wayang ini juga telah berpindah selama sedikitnya tujuh kali.
Dimulai dari Ki Purwo sebagai penemu dan dalang pertama, kemudian dilanjutkan Ki Sukro (1930-1945 an), Ki Jaya Lan (1945-1958an), Ki Darja (1958-1875an), Ki Samid (1990-2006), Ki Heru Cahyono (2006-2012), Ki Wasisi Asmara dan Ki Nari (2012-sekarang). (riz/bin/fid)
Editor : Ainul Hafidz