JombangBanget.id - Dokter Hera Prasetia SpBS MKes FINPS termasuk dokter spesialis bedah saraf senior di RSUD Jombang.
Di balik sosoknya yang kalem dan bersahaja, dia memiliki perjalanan karir panjang yang penuh dedikasi dan pengabdian.
Dari pelosok Maluku Utara hingga kini menjadi dokter spesialis bedah saraf di RSUD Jombang.
Lahir di Surabaya, 25 Februari 1967, dr Hera menempuh pendidikan kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Ia menyelesaikan pendidikan dokter umum pada 1993.
Lalu menjalani penugasan sebagai dokter pegawai tidak tetap (PTT) di Puskesmas Bere-Bere, Kecamatan Morotai Utara, Kabupaten Maluku Utara. Kala itu, wilayah tersebut masih menjadi bagian dari Provinsi Maluku.
’’Setelah lulus, saya langsung ditugaskan ke Maluku Utara. Jalannya masih lewat laut, sinyal tidak ada, bahkan kapal perintis cuma datang sebulan sekali,’’ kenangnya sambil tersenyum.
Untuk menjangkau 17 desa di wilayah kerjanya, dia harus naik speedboat milik puskesmas, menyusuri laut demi melayani pasien.
’’Kalau ke Ternate, harus menyeberang dulu ke Morotai Selatan, lalu lanjut kapal semalaman,’’ tambahnya.
Tiga tahun bertugas di wilayah terpencil menjadi pengalaman berharga baginya.
Pada 1997, ia kembali ke Jawa Timur dan mendaftar sebagai CPNS Kemenkes.
Baca Juga: Zuhriya Rohmawati, Guru Asyik di Balik Prestasi Tim Olimpiade dan KTI MA UWH Jombang
Ia akhirnya, ditempatkan di Kabupaten Jombang tepatnya Puskesmas Kabuh. Wilayah paling utara yang berbatasan dengan Lamongan.
’’Saya waktu itu dokter kedua di sana,’’ ujarnya.
Tahun 1998 menjadi titik balik penting.
Ia diterima sebagai peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis Bedah Saraf di Fakultas Kedokteran Unair, dengan lokasi pendidikan di RSUD Dr Soetomo Surabaya.
Program Pendidikan Bedah Saraf saat itu tedapat 12 Semester, namun dia menempuh pendidikan selama tujuh tahun.
’’Pendidikan spesialis bedah saraf itu tidak mudah. Banyak teori dan praktik, dan harus benar-benar siap mental. Tapi saya bersyukur, karena itu bidang yang menantang dan masih jarang diminati,’’ ungkapnya.
Selepas menyelesaikan studi, dr Hera sempat mencari rumah sakit yang sesuai dengan bidangnya.
’’Saya sempat ke Bojonegoro dan Blitar, tapi waktu itu fasilitasnya belum memadai, belum ada CT scan. Akhirnya saya pilih kembali ke Jombang,’’ katanya.
Kabupaten Jombang akhirnya menjadi lokasi pengabdiannya.
Ia resmi bergabung sebagai dokter spesialis bedah saraf RSUD Jombang pada 1 Agustus 2006.
Sejak saat itu, karirnya terus berkembang. Selain melayani pasien, dr Hera juga dipercaya menempati sejumlah posisi struktural.
Ia pernah menjabat Kepala Instalasi Gawat Darurat (2008–2012).
Kemudian Kepala Bidang Pelayanan Medis dan Keperawatan (2012–2019).
Serta Ketua Komite Mutu dan Keselamatan Pasien (2013–2017).
Di sela kesibukannya, ia masih aktif mengajar sebagai Dosen Luar Biasa Ilmu Bedah Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang di RSUD Jombang.
Meski telah menempati jabatan strategis, dr Hera tak berhenti belajar.
Ia kembali ke bangku kuliah dan meraih gelar Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan (MKes) di Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair pada 2016.
’’Saya ambil S2 karena ingin memahami sisi manajerial rumah sakit. Biar ilmunya seimbang, antara medis dan manajemen,’’ terangnya.
Tahun 2019 menjadi titik refleksi dalam karirnya.
Ia memutuskan mundur dari jabatan struktural untuk fokus kembali ke profesi.
Dia juga menjadi member as Fellow of Indonesian Neurosurgical Pain Society ( FINPS) 2020.
Dokter Hera juga menempuh pendidikan Fellow untuk Bidang NeuroVascular di RSUD Dr Soetomo 2023 (dengan sebutan F-N Vas).
Dua tahun terakhir, ia tercatat mengikuti Bali International Neurovascular Intervention Conference 2024.
Workshop Cadaver Pain Fluoroscopy Level 4, hingga Asian Epilepsy Surgery Congress 2024.
Meski jadwalnya padat, dr Hera tetap menempatkan pelayanan kepada pasien sebagai prioritas utama.
’’Bagi saya, menjadi dokter bukan sekadar profesi, tapi panggilan hati,’’ paparnya.
Kini, di usia 58 tahun, dr Hera tetap mengabdi sebagai dokter bedah syaraf di RSUD Jombang.
’’Jombang ini kota kecil, tapi jangan salah, rumah sakitnya terus berkembang. Saya percaya, dengan komitmen dan kerja sama semua pihak, layanan kesehatan di sini akan semakin maju,’’ tegasnya. (ang/jif)
Editor : Ainul Hafidz