JombangBanget.id - Robeth Buldan K Anzy Bahruliman, sudah enam tahun tinggal di Suriah.
Selain fokus studi, warga Jombang ini juga aktif berorganisasi.
Selain melahirkan banyak ulama besar, wilayah Suriah juga kental sejarah Islam.
Di suriah, pemuda kelahiran Probolinggo, 20 Juni 2000 tinggal di Distrik Ruknuddin Kota Damaskus Republik Arab Suriah.
Robeth memiliki keinginan besar untuk berkontribusi dalam mencerdaskan bangsa melalui pendidikan dan literasi.
Ia mengawali pendidikannya di SDN Pancoran 01 Pagi Jakarta Selatan, kemudian ke MTsN 3 pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, dan MA Muallimin Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Setelah lulus aliyah, ia mulai perjalanan panjangnya di Suriah yaitu tahun 2019.
Ia berhasil diterima di Universitas Bilad Al Sham Cabang Kompleks Syekh Ahmad Kaftaru Damaskus Suriah pada fakultas Ushuluddin.
Lulus S1 2023, ia tak langsung pulang, melainkan melanjutkan kuliah S2 di negara dan kampus yang sama, dengan jurusan Tafsir dan Ilmu Alquran.
Selain menempuh kuliah, ia juga aktif berorganisasi di Perhimpunan Pelajar Indonersia (PPI) Suriah, dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Suriah.
Robeth juga aktif menghadiri forum-forum kajian ilmian di luar kampus.
Baca Juga: Sedang Peralihan Musim, Begini Cara Warga Jombang Jalani Puasa Ramadan di Jerman
Robeth kuliah menggunakan beasiswa dari kampus.
Agar berhasil mendapatkan beasiswa, menurut Robeth, mahasiswa harus mencari banyak informasi tentang beasiswa pada negara yang dituju.
”Persiapkan secara matang materi yang diujikan dan secara mental, percaya diri, serta minta doa restu guru dan orang tua,” ungkap putra pasangan Abd Hamid Wahid dan Khodijatul Qodriyah tersebut.
Pria yang gemar membaca, travelling, dan berdiskusi ini dapat kuliah di Suriah karena mendapatkan informasi dari salah satu gurunya, yang juga pernah kuliah di Suriah.
Banyak juga informasi yang ia ketahui tentang Suriah melalui buku-buku yang ia baca. Tentang keberkahan Negeri Syam.
”Betapa luar biasanya ulama-ulama yang muncul dari sana. Akhirnya waktu itu saya ikut seleksi S1 dan lulus sebagai perwakilan Jawa Timur,” katanya.
Syarat umum untuk dapat melanjutkan belajar di negara-negara di Timur Tengah, utamanya mengambil jurusan keagamaan Islam hampir sama.
Yaitu kemampuan bahasa Arab, membaca kitab, dan percakapan ringan. Memiliki pengetahuan keislaman dasar, seperti ilmu Fiqih, Akidah, dan Akhlak.
”Perlu juga belajar wawasan umum tentang negara yang dituju. Bisa mencari tahu di internet, atau sharing dengan orang yang sudah berpengalaman di sana,” jelasnya.
Suriah merupakan negara dengan empat musim. Musim dingin dan panas di sana berlangsung ekstrem.
Sehingga kadang tidak hanya mental, tapi ketahanan fisik juga perlu di siapkan untuk menghadapi musim yang tidak dialami di Indonesia.
”Bahasa yang digunakan sehari-hari juga tentu berbeda, tapi ada sejumlah tradisi yang mirip, seperti salawatan,” jelasnya.
Suriah dipilih karena merupakan salah satu pusat keilmuan Islam yang mencetak banyak ulama terkemuka lintas zaman.
Sedangkan Kota Damaskus adalah salah satu kota tertua di dunia. Banyak peninggalan sejarah dari berbagai peradaban yang menarik Robeth untuk belajar di sana.
Seperti Romawi, Dinasti Bani Umayyah, Abbasiyyah, dan Ottoman.
”Suriah masuk dalam kawasan Negeri Syam, yaitu negeri yang diberkahi, sebagaimana disebutkan dalam Alquran QS Al-Israa' ayat 1 dan disebutkan dalam banyak hadits Nabi, serta keterangan para ulama,” ungkapnya.
Robeth dapat belajar lebih banyak di Suriah, dengan memanfaatkan semaksimal mungkin kesempatan belajar di negara pascakonflik.
”Dapat dipetik banyak pelajaran, bagaimana menghadapi dan bisa bangkit setelah dilanda konflik belasan tahun,” katanya.
Sepanjang 2019 sampai sekarang, tantangan paling sulit yang dihadapi di Suriah bagi Robeth adalah keterbatasan fasilitas yang sempat melanda negara Suriah.
Hal itu akibat embargo yang diberlakukan Amerika Serikat, sehingga terjadi pemadaman listrik harian.
Namun hal itu menjadi mudah ketika ia berada di lingkungan kampus.
Sebab di kampus menawarkan fasilitas listrik 24 jam dengan panel surya.
”Di sini saya belajar banyak hal, pengalaman yang paling berkesan, saya mengalami dan menyaksikan transisi politik, perubahan dari rezim sebelumnya menuju pemerintahan baru yang berkuasa saat ini,” ungkapnya.
Robeth juga sempat kesulitan beradaptasi dengan bahasa yang digunakan sehari-hari. Juga tradisi warga lokal yang berbeda dengan orang Indonesia.
”Orang Suriah sangat suka mujamalah, semacam selingan obrolan, biasanya berupa doa,” ungkapnya.
Warga lokal Suriah sangat menjaga privasi.
”Ada beberapa hal yang tabu dilakukan di depan umum masyarakat Suriah meskipun itu biasa saja jika dilakukan di depan umum di Indonesia,” pungkasnya. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz