JombangBanget.id – Maramita Elfani, 37, warga Desa Sambongdukuh Kecamatan Jombang sudah berada di Mesir sejak 2005.
Saat ini, Mita sedang menempuh pendidikan doktoral di Universitas Al Azhar Kairo.
’’Saya mulai ke Mesir 2005, ketika menempuh pendidikan S1,’’ ungkap ibu tiga anak ini.
Mita S1 hingga S3 pada jurusan Tafsir dan Ilmu-Ilmu Alquran.
Dia kini tinggal di District 10, Nasr City, Kairo. Tamat SDN Jombang 2, dia melanjutkan di MTsN 4 Jombang.
Kemudian ke MA Unggulan KH Wahab Hasbullah Tambakberas.
Selama di MA, dia ketemu beberapa guru alumni Mesir.
Guru-guru itulah yang menjadi inspirasi bagi Mita untuk melanjutkan studinya di Mesir.
Ia menilai, guru lulusan Mesir memiliki keilmuan dan pola pikir yang moderat.
Tidak hanya kagum, Mita juga ingin belajar di bidang ilmu yang sama.
Sejak saat itu, ia meminta izin dan rida kepada kedua orang tuanya, Sutrisno dan Choiriyah, untuk bisa kuliah di luar negeri.
’’Meski mungkin saat itu terasa sangat berat. Tapi saya bersyukur dan berterimakasih kepada kedua orang tua, yang telah meridai saya kuliah di Mesir,’’ urai istri Faiz Husaini tersebut.
Al Azhar dipilih karena merupakan kiblat keilmuan Islam di dunia.
Banyak ulama-ulama alim yang memiliki ilmu tinggi di Al Azhar. Mesir juga negeri para nabi, dan salah satu negara dengan peradaban Islam yang tinggi.
’’Alhamdulillah, saat itu mendapatkan akses yang cukup mudah untuk proses pendaftaran serta pemberangkatan ke Mesir. Melalui salah satu mediator di Indonesia,’’ tambahnya.
Dengan bekal niat yang kuat, Mita yang bercita-cita bisa memberikan manfaat dan berkhidmah dengan baik untuk agama dan negara, berangkat bersama beberapa teman satu almamater.
Kala menempuh S1 di Universitas Al Azhar, ia mendapatkan beasiswa dari Bait Zakat El Kuwaity di Mesir.
Saat itu, diharuskan melalui tahun pertama dengan minimal nilai yang telah ditentukan.
Beasiswa akan otomatis terputus ketika gagal di tahun tertentu.
’’Alhamdulillah Allah mengizinkan saya mendapat beasiswa selama S1. Bahkan bisa berlanjut pada jenjang S2,’’ ungkapnya.
Semangat belajarnya sangat tinggi. Lulus S2, ia memutuskan untuk melanjutkan program doktoral (S3) di kampus yang sama.
Kali ini dengan basiswa Mora 5.000 doktor dari Kemenag. Salah satu syarat untuk lanjut S3 di Mesir adalah mahasiswa yang lulus S2 di Al Azhar juga.
’’Hal itu sangat memotivasi saya untuk melanjutkan doktoral. Tentu saja tantangannya juga lebih besar,’’ katanya.
Menurutnya, belajar di luar negeri memiliki tantangan yang berbeda.
Mahasiswa dituntut harus lebih mandiri, karena jauh dari orang tua dan keluarga.
Proses ataptasi yang dibutuhkan juga lebih keras daripada kuliah di dalam negeri.
’’Bekal yang paling penting adalah niat yang tulus dan ikhlas, untuk menuntut ilmu. Sehingga tidak mudah terdistraksi oleh hal-hal sekunder yang tidak terlalu berhubungan dengan belajar atau pengembangan potensi diri,’’ ungkapnya.
Harus mempersiapkan mental untuk menghadapi tantangan, baik yang berhubungan dengan budaya maupun materi perkuliahan.
Perbedaan bahasa menjadi tantangan bagi Mita untuk bisa bertahan di Mesir.
Dia penuh menggunakan Bahasa Arab, baik lisan maupun tulisan.
’’Bekal bahasa menjadi sangat penting di sini, kemampuan bahasa Arab baik lisan maupun tulisan,’’ tambahnya.
Menempuh pendidikan di perantauan, menuntutnya harus banyak membaca dan bertanya kepada senior.
Utamanya tentang adat serta budaya. Tujuannya, memudahkan proses adaptasi ketika telah berada di negara tujuan.
Awal-awal tinggal di Mesir, ia juga harus beradaptasi dengan cuaca dingin yang ekstrem. Juga cuaca panas yang ekstrem. Serta adaptasi makanan.
Karena Mita lebih suka makanan selera nusantara. Sambel hingga kini menurutnya lebih nikmat daripada sandwich.
’’Saya termasuk sedikit picky eater (pilih-pilih makanan). Lebih suka dengan selera nusantara daripada selera mancanegara,’’ jelasnya.
Gaya bicara orang Arab yang terkesan tegas dan terdengar keras, menjadi salah satu culture shocknya ketika awal-awal tinggal di Mesir.
Namun Mesir selalu membuatnya kagum, karena toleransi yang tinggi.
Berbagai mazhab fiqih ahlu sunnah wal jamaah diterapkan di Mesir, tidak sekedar pengetahuan teoritis.
’’Penerapan perbedaan yang damai tanpa saling menghakimi. Dan di Mesir yang paling mudah didapatkan adalah ilmu,’’ ungkapnya.
Banyak pengalaman berkesan yang ia dapatkan selama 19 tahun di Mesir.
Salah satunya adalah ketika menjalani program tamhidi 2 pada jenjang pascasarjana (S2).
Program tamhidi merupakan program akhir sebelum pengajuan proposal tesis. Ia menempuh ujian akhir dalam kondisi hamil sembilan bulan.
Namun semua terasa mudah karena ada bantuan dari suaminya yang juga menjalani ujian di jenjang yang sama. Semua terlewati dengan lancar.
Mita dan suaminya sama-sama lulus ujian tersebut.
’’Saat itu saya harus berjuang mempersiapkan materi-materi ujian yang lumayan berat dengan kondisi fisik yang juga tidak mudah,’’ kenangnya. (wen/jif)
Editor : Ainul Hafidz