Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Di Balik Kisah Warga Jombang Tinggal di Mesir: Kepincut Kuliah di Universitas Al Azhar Karena Alumni Datang ke Desa

Wenny Rosalina • Sabtu, 6 Juli 2024 | 19:38 WIB
BERPRESTASI: Amrina Rosyada Salsabila warga Jombang yang kini kuliah di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir.
BERPRESTASI: Amrina Rosyada Salsabila warga Jombang yang kini kuliah di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir.

JombangBanget.id - Mesir adalah negara impian Amrina Rosyada Salsabila sejak kecil.

Ia baru bisa menggapainya ketika lulus dari bangku madrasah aliyah.

Dua tahun tinggal di Mesir, sampai sekarang Amrina masih harus berjuang menghadapi tantangan demi tantangan dalam perjalanan pendidikannya.

”Sejak kecil ingin kuliah di Mesir memang. Dulu pas TK pernah melihat alumni Mesir yang datang ke desa terus orangnya keren sekali, langsung dijadikan wishlist sejak TK buat kuliah di Mesir suatu saat nanti,” ungkap warga Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Jombang ini.

Saat ini Amrina sudah menginjak tingkat 2, di jurusan Ushuluddin di Universitas Al Azhar Kairo Mesir.

Perempuan yang gemar membaca ini menempuh pendidikan dasar di MI Perguruan Mu’alimat Cukir dan lulus 2015.

Ia kemudian melanjutkan ke MTs Perguruan Mu’alimat Cukir dan lulus 2018.

Setelah itu ia nyantri dan sekolah di MA Unggulan Darul Falah Mojokerto hingga 2021.

Keinginannya belajar di Mesir semakin menggebu ketika menginjak akhir kelas XII MA Unggulan Darul Falah Mojokerto.

Bersamaan dengan kakak perempuannya dipinang seorang lelaki yang pernah kuliah di Mesir.

Niatnya yang bulat, dukungan dari orang tua Moh Amin Aly dan Ika Masruroh, lengkap dengan teman diskusi untuk mempersiapkan segala sesuatu yang harus dipersiapkan.

Baca Juga: Cerita Abdulloh Athif Syamsuddin Warga Jombang di Mesir: Kuliah di Al-Azhar Terinspirasi dari Murid Orang Tua

”Saat itu kalau ingin kuliah di Mesir, bisa lewat Pusiba (Pusat Studi Islam dan Bahasa Arab) atau Kemenag,” ungkap Amrina.

Jika melalui Pusiba, saat itu harus harus menunggu satu tahun lagi, karena pendaftaran sudah ditutup.

Mau tidak mau, ia harus ambil jalur Kemenag meski harus melalui beberapa tes.

”Akhirnya saya nekat ikut Kemenag saja, soalnya sekolahnya sudah mau selesai pas itu, terus ikut tes lewat mediator di Bojonegoro, saya masuk asrama itu sudah H-1 minggu tes Kemenag, padahal yang lain itu sudah masuk dari tiga bulan lalu atau lebih,” jelasnya.

Tes pertama yaitu tes tulis, tentang Nahwu Shorof dan Balaghoh.

Bekal menempuh pendidikan di pondok pesantren dan madrasah begitu dirasakan ketika sudah menjalani tes dengan materi itu.

”Nahwu Shorof bisa, Balaghoh yang belum pernah belajar, jadi hari itu pasrah, ala kulli hal nilai saya tidak masuk KKM, saya gagal,” ungkapnya.

Karena ada aturan baru dan ada penurunan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal), sehingga Amrina dinyatakan lolos untuk mengikuti tes lisan.

”Setelah menjalani tes, saya sangat cemas, sampai saya sakit, alhamdulillah saya lolos dan sekarang sudah belajar di Mesir,” ungkap perempuan yang bercita-cita menjadi guru atau dosen ini.

Menurutnya, bekal untuk kuliah di luar negeri adalah kepercayaan diri yang tinggi.

Tidak boleh pesimistis, dan harus gencar dalam berusaha serta berdoa.

”Saya pun menyadari jika saya bukan orang yang pandai dalam hal akademik, tapi percaya Allah pasti akan memberi jalan untuk orang yang berusaha dan berdoa,” jelasnya.

Pada 2022 ia mulai belajar di Mesir.

Menurutnya, vibes belajar di luar negeri dengan di Indonesia sangat berbeda.

Tantangan paling berat adalah memahami materi dengan bahasa yang sangat berbeda dengan bahasa Arab yang selama ini dipelajarinya.

”Mendengarkan penjelasan duktur dengan Bahasa Arab campur (fushah-amiyah) terus diterjemahkan di otak sambil di resapi, kalau belum terbiasa ya pasti ketinggalan, makanya harus direkam dan diulang terus pas di rumah,” ungkap gadis kelahiran Jombang, 10 September 2002 tersebut.

Apalagi ketika ia harus menghadapi ujian azhar. Persiapan tidak cukup hanya satu atau dua minggu, tapi 2-3 bulan sebelum ujian.

”Di sini semua tantangan tidak ada yang mudah, semuanya butuh usaha,” tambahnya.

Namun, ia mengaku Mesir selalu menjadi negeri yang indah dan sesuai dengan apa yang diimpikan.

Di Mesir, Amrina juga aktif di sejumlah organisasi.

Di antaranya NU Fatayat Mesir, PPMI Mesir, juga aktif di kekeluargaan dan almamater yang ada di Mesir.

Ia bisa ziarah ke makam-makam masyayikh terkenal yang belum tentu semua orang bisa datangi.

Misalnya, melihat hingga menyentuh makam Imam Syafii yang sangat masyhur di Indonesia.

”Itu hal yang tidak mungkin bisa saya lupakan,” imbuhnya.

Awal datang di Mesir, Amrina harus beradaptasi dengan banyak hal.

Seperti cuaca dan suhu. Musim dingin di Mesir bisa mencapai -2 derajat Celsius, sedangkan musim panas bisa mencapai 40 derajat Celsius.

Culture shock lainnya adalah penggunaan bahasa Arab. Jika ia terbiasa belajar bahasa Arab dengan fushah yang baik, Nahwu Shorofnya harus tepat.

”Di sini malah pakai amiyah, yang bener-benar beda sekali sama bahasa Arab yang kita ketahui,” pungkas gadis yang kini tinggal di Jalan Kholifah Dzofir Imaroh 9, Blok 9, Madkhol 3 Hay Sabi’, Madinah Nasr, Cairo, Mesir. (wen/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#diaspora #warga #Cukir #Tinggal #Desa #mesir #Jombang #Diwek #kairo #universitas al azhar