JombangBanget.id – Anjas Happy Prayoga tak pernah terfikir bakal menjadi mahasiswa Korea.
Ia hanya mengambil kesempatan yang diberikan profesornya dan berusaha menata hati dan niat untuk bisa kuliah di Negeri Gingseng.
Kini studinya sudah memasuki semester empat di Gyeongsang National University (GNU) Korea Selatan.
Putra pasangan Kuswinaryo dan Rita Wijayati ini mengenyam bangku sekolah dasar di SDN Plandi 2, Jombang, lulus tahun 2012.
Lalu lanjut ke SMPN 5 Jombang lulus 2014, kemudian lanjut di SMA PGRI 2 Jombang lulus tahun 2017.
Usai tamat SMA, ia bertandang ke Jember untuk kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Negeri Jember dan lulus tahun 2022.
Saat ini, Anjas menempuh pendidikan S2 di Gyeongsang National University (GNU) Korea Selatan.
Studinya sudah mulai memasuki semester empat, dengan mengambil konsentrasi Convergence Medical Science.
”Jurusan ini bergerak di bidang penanganan penyakit pada manusia yang hampir sama dengan di dunia kedokteran,” jelas warga Parimono, Desa Plandi, Kecanatan Jombang.
Pria kelahiran Jayapura pada 5 Februari 1999 ini tak pernah terfikirkan akan melanjutkan S2 di Korea Selatan.
Cita-citanya sederhana, hanya ingin lanjut kuliah S2, tidak harus di luar negeri.
Ia hanya mengambil kesempatan yang ditawarkan oleh profesor pembimbingnya di Unej.
”Prof Tri Agus Siswoyo, SP, M.Agr, Ph.D saat itu menawarkan beasiswa kuliah di Korea. Kebetulan professor saya di GNU adalah rekan kerja profesor saya di Unej,” ungkap Anjas yang sekarang tinggal di Jinju, Gyeongsangnam.
Saat itu hanya dua orang saja yang akan diambil untuk kuliah S2 di Korsel.
Tanpa pikir panjang terkait biaya dan sebagainya, Anjas ikut dalam seleksi tersebut.
Sempat deg-degan dan khawatir tak lolos, sebab wawancara dilakukan langsung oleh professor GNU. Setelah dua minggu menunggu, ia dinyatakan lolos.
”Saya rasa ini sebuah keajaiban, jika sudah jalannya, dan Allah berkehendak, maka hasilnya akan mengikuti. Dan itu juga berkat doa dan restu dari kedua orang tua saya,” jelasnya.
Anjas mendapatkan beasiswa BK21 yaitu salah satu beasiswa yang ada di Korea.
Ia juga terjun dalam proyek penelitian perusahaan di Korea. Kegiatannya di S2 fokus pada penelitian saja.
Meski begitu, ia juga ikut bersosialisasi dengan mahasiswa Indonesia yang kuliah di GNU melalui keanggotaan Ikatan Mahasiswa Korea.
Dalam dunia perkuliahan, ia merasakan perbedaan yang mencolok antara cara belajar mahasiswa di Korea Selatan dengan di Indonesia.
Di Korea, dosen hanya menjelaskan, tanpa diberikan tugas setiap pertemuan.
Tugas biasanya hanya diberikan satu tugas dalam satu semester. Presentasi sekali dalam satu semester.
Prioritas kuliah di Korea adalah penelitian. Professor yang mengajar juga mengetahui jika mahasiswa harus fokus dalam penelitian, sehingga tidak ada tugas lain yang memberatkan penelitian.
”Jadi, kendala yang paling utama saya dan mungkin teman-teman lain rasakan adalah harus mengejar deadline penelitian dari profesor. Belum lagi kalau dapat hasil yang kurang memuaskan. Tapi tetap harus kita lanjutkan walaupun harus mengulang dari awal. Sambil sedikit menangis,” ungkapnya sembari tertawa.
Menurutnya, bekal utama untuk kuliah di luar negeri adalah penguasaan bahasa yang digunakan di negara yang dituju.
Beruntungnya, Anjas kuliah di jurusan yang memperbolehkan mahasiswanya untuk menggunakan bahasa Inggris.
”Kalau kita mengambil jurusan yang tidak menerima bahasa Inggris, ya mau tidak mau kita harus belajar bahasa Korea, biar kita memahami materi kuliah yang akan dibawakan nanti,” katanya.
Sebab, kadang ada jurusan yang menerima mahasiswa asing, tapi tidak semua pekerjanya fasih dalam berbahasa Inggris.
Sehingga harus menggunakan bahasa Korea.
Meski begitu, Anjas tak menampik, jika menguasai bahasa Korea memiliki nilai plus ketika wawancara.
Sementara, kefasihannya dalam berbahasa Inggris dibuktikan dengan melampirkan hasil ujian TOEFL atau IELTS.
Selain itu, calon mahasiswa juga perlu untuk mempelajari universitas atau jurusan yang dituju.
Minimal memiliki sedikit bekal, untuk mengenal kampus yang akan menjadi tempat belajar dua tahun ke depan.
Hal penting lainnya adalah persiapan niat dan hati. Menurutnya, kuliah di luar negeri memang sering dianggap keren.
Namun, tidak semuanya indah seperti yang dibayangkan.
Sebab, di luar negeri pasti ada tekanan, baik dari kegiatan kuliah, sosialisasi dengan masyarakat sekitar, hingga cara bertahan hidup.
”Tentu saja yang diposting hanya yang indah-indah saja. Sedangkan struggles yang dihadapi di sini tidak dipublikasikan. Jadi, harus dibutuhkan niat yang besar jika memang ingin kuliah di luar negeri,” jelasnya.
Baca Juga: Cerita Arini Shohihalhaq Zaimuddin Warga Jombang Kuliah di Universitas Al Azhar Mesir
Seperti Anjas yang sempat kesulitan untuk berkomunikasi dengan warga lokal.
Sebagai seorang muslim, Anjas juga sempat mengalami tantangan dalam menjelaskan karena menolak ajakan teman untuk meminum minuman beralkohol.
”Ada yang sudah paham, ada yang masih terus bertanya lagi secara logika. Di sini iman harus kuat, namun harus tetap menghargai ajakan teman,” jelasnya.
Beberapa momen berkesan membuat Anjas betah di Korea.
Salah satunya adalah momen berkumpul bersama mahasiswa atau pekerja dari Indonesia.
Biasanya dilakukan pada saat Lebaran.
”Berinteraksi dengan orang Indonesia sangat membantu saya di sini secara mental ataupun fisik,” ungkapnya.
Tinggal di Korea membuat Anjas mendapatkan banyak pengalaman baru.
Yaitu pengalaman pertama kali naik pesawat terbang. Pengalaman memegang salju.
Hal-hal kecil yang menjadi impian di saat dia masih kecil dulu satu per satu terwujud.
Ia juga sempat mengalami beberapa culture shock.
Salah satu yang sangat berbeda menurutnya adalah segala sesuatu yang berjalan sangat cepat, mulai dari bekerja, transportasi, orang jalan dan lain sebagainya.
”Orang Korea sangat cepat dalam melakukan sesuatu sampai saya kewalahan mengikuti kegiatan mereka,” katanya.
Penggunaan bahasa Inggris di Korea juga tidak banyak.
Banyak masyarakat yang tidak menguasai bahasa Inggris. Bahkan tidak semuanya menggunakan grammar yang baik.
”Pengucapan bahasa Inggris mereka yang mereka sebut dengan "Konglish" (Korean English), membuat saya kesulitan memahami waktu semester satu. Namun sekarang, saya bisa memahami konglish-nya mereka,” ungkapnya.
Setelah lulus S2, ia berencana untuk melanjutkan kuliah S3.
Juga mencari kerja di Korea atau di Indonesia sebagai peneliti di perusahaan.
”Setelah ini saya berencana untuk menikah dulu, dan kalau boleh berharap saya berharap bisa bekerja di Indonesia sesuai dengan bidang saya,” pungkas pria yang bercita-cita jadi peneliti ini. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz