JombangBanget.id – Cuaca ekstrem yang sulit diprediksi membuat peternak ayam broiler di Kecamatan Mojowarno, Jombang waswas.
Dalam sehari, panas terik bisa mendadak berganti hujan lebat.
Perubahan suhu drastis ini memicu stres pada ayam, menurunkan nafsu makan, bahkan berisiko gagal panen.
”Cuaca sekarang ini memang sulit ditebak. Pagi sampai siang panas terik, kandang seperti oven. Tiba-tiba sore hari hujan lebat, suhu langsung drop. Kalau kita lengah, ayam mudah stres, nafsu makan turun, dan yang paling ditakutkan adalah kematian mendadak,” ungkap Samsul Ma’arif, peternak asal Desa Grobogan, Jumat (14/11).
Di kandang Samsul terdapat 4.400 ekor ayam berumur 18 hari dengan bobot rata-rata satu kilogram.
Normalnya, ia bisa menghasilkan hingga 10 ton ayam sekali panen. Namun fluktuasi suhu membuat pertumbuhan terhambat dan rasio konversi pakan (FCR) memburuk.
”Kalau salah langkah sedikit saja, panen bisa meleset. FCR jelek, bobot kurang, dan biaya pakan membengkak,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi, peternak menerapkan manajemen kandang ketat. Ventilasi dimaksimalkan, tirai dinaikkan saat panas dan diturunkan saat hujan.
Blower dan cooling pad dioperasikan, kabut air disemprotkan untuk menurunkan suhu, serta kepadatan ayam dijaga.
Jadwal pakan pun dimajukan ke pagi buta dan sore hari ketika suhu lebih sejuk.
”Kunci utamanya ada pada sirkulasi udara. Ventilasi harus maksimal. Untuk kandang closed house, blower dan cooling pad wajib dioperasikan saat panas. Untuk open house, sisi kandang harus bisa dibuka lebar supaya angin masuk,” jelas Samsul.
Kepala Dinas Peternakan Jombang, Moh Saleh, menegaskan pentingnya disiplin manajemen kandang.
”Peternak broiler harus lebih waspada. Pencatatan suhu harian, perilaku ayam, dan kontrol kandang tidak boleh diabaikan. Investasi pada ventilasi yang baik itu wajib, karena kesalahan kecil bisa berdampak besar menjelang panen,” tegasnya. (yan/naz)
Editor : Ainul Hafidz