SELASA (13/1) di Pesantren Tebuireng Putri, KH Fahmi Amrullah Hadziq selaku pengasuh mengaji kitab Nasoihul Ibad.
Beliau menyampaikan, hidup sederhana bukan berarti tanpa kebahagiaan.
’’Kesederhanaan justru menjadi jalan menuju ketenangan dan keberkahan, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam,’’ tuturnya.
Kehidupan Rasulullah sangat jauh dari kemewahan. Rumah, tempat tidur dan makanan beliau sederhana.
Beliau manusia yang paling mulia dan paling bahagia karena hatinya dipenuhi rasa syukur dan tawakal kepada Allah Ta’ala.
Kemewahan dunia bukanlah ukuran kebahagiaan sejati. Rasulullah bersabda: Kekayaan itu bukanlah karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kaya hati.
Rasulullah dikenal sangat dermawan. Harta yang beliau miliki tidak pernah ditimbun, melainkan dibagikan kepada umatnya.
Kemuliaan dan kebahagiaan bukan terletak pada kekuasaan atau harta yang melimpah.
Tetapi pada kemampuan memakmurkan dan membantu orang lain meskipun dalam keadaan sederhana.
KH Hasyim Asy’ari di kitab Adabul ‘Alim wal Muta‘allim mengajarkan agar seseorang tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama.
Tetapi menjadikan dunia sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
Santri harus membiasakan hidup sederhana, menjaga adab, serta memperbanyak ibadah dan doa sebagai kunci keberkahan rezeki.
Di antara amalan yang dianjurkan untuk meluaskan rezeki dan dijaga Allah Ta’ala yakni membaca QS Alfath di juz 26 pada awal Ramadan.
Oleh Inayatur Rosyidah, Kelas XI-B MA Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng, Jombang
Editor : Ainul Hafidz