ALHAMDULILLAH, acara Mujahadah Kubro PWNU di stadion Gajayana Malang, berlangsung sangat sukses.
Sayang saya tidak bisa hadir, karena ada undangan walimahan alumni Unipdu. Saya hanya bisa mengikutinya dari streaming Youtube di perjalanan.
Melihat semua yang selama ini berseberangan, berada di satu panggung, merupakan “kabar gembira” yang membahagiakan seluruh Nahdliyin.
Terlebih setelah menyimak pidato presiden di menit ke 11 yang menekankan pentingnya persatuan dan kerukunan para pimpinan organisasi.
Pasti semua hadirin bertepuk tangan, meski dalam hati.
Kali ini, saya tidak akan membahas acara tersebut, karena saya tidak berada di lokasi.
Saya akan menceritakan pertemuan saya dengan seseorang yang luar biasa dalam acara peringatan Haul ke 6 Gus Sholah (KH. Salahuddin Wahid ) di Tebu Ireng, awal bulan lalu.
Di saat pembacaan tahlil sedang berlangsung, tiba-tiba duduklah seorang anggota polisi di dekat saya. Saya pikir dia anggota Polsek Diwek atau Polres Jombang.
Kami hanya bersalaman dan saling senyum saja, tanpa percakapan.
Hingga acara berakhir, saya tidak tahu kalau pak polisi itu figur yang sedang viral.
Saya baru tahu setelah gus Ipang Wahid mengajaknya ramah tamah bersama para pengasuh Tebu Ireng dan pengurus yayasan serta rektorat Unhasy.
Baca Juga: Gus Zu'em: Rakyat Penonton Pilkada
“Namanya Aipda Purnomo dari Polres Lamongan, dia merawat 300 lebih orang dengan gangguan jiwa (ODGJ)” ucap Gus Ipang memperkenalkannya pada kami.
Maka, jadilah dia "nara sumber" dadakan yang "di-host-i" K. Cholil Nafis (MUI Pusat).
Dari bincang-bincang singkat itu saya "mencatat" bahwa di tengah kegaduhan yang sering penuh amarah ini, kisah pak Purnomo terasa seperti oase.
Ia bukan tokoh yang suka berpidato soal kemanusiaan, ia hanya seorang polisi yang memilih melangkah sedikit lebih dalam dari kewajiban formalnya.
Dia telah membuka rumahnya untuk ODGJ dan para gelandangan.
Mereka yang sering kita hindari di jalan, yang kerap kita pandang dengan rasa takut atau jijik, justru dirangkulnya.
Bukan di panti, bukan di lembaga resmi, tapi di rumahnya sendiri.
Di sana mereka dimandikan, diberi makan, diajak bicara, dan yang paling penting : diperlakukan sebagai manusia.
Perlu digarisbawahi, ini bukan kerja yang menyenangkan dan mulus. Pak Purnomo sudah sangat terbiasa menerima makian dari anak-anak asuhnya.
Tidak jarang pula ia mendapat perlawanan fisik hingga pukulan yang melukai, saat membimbing mereka.
Bagi sebagian orang, satu kali perlawanan saja mungkin sudah cukup alasan untuk mundur.
Tapi tidak bagi Pak Purnomo. Dia paham betul: gangguan jiwa dan luka hidup sering kali terekspresikan lewat kemarahan.
Maka, hati-hati bila kita yang masih waras ini tapi mulai mudah marah.
K. Cholil Nafis, K. Kikin Abd. Hakim, saya dan mustami' lainnya berkali-kali dibikin geleng-geleng kepala mendengar kisahnya, sambil dia memperlihatkan HP berisi rekaman aktivitasnya.
Maklum, kami kurang "istiqamah" mengikuti medsos.
Ternyata, dalam kiprahnya, Pak Purnomo sering membagikan aktivitas kesehariannya melalui konten di media sosial.
Bukan untuk unjuk diri, tapi agar orang lain tahu: ODGJ dan gelandangan bukan sampah sosial.
Dari situlah perlahan dukungan datang. Banyak orang tergerak, ikut membantu dengan donasi, kebutuhan pokok, dan doa.
Dana dari media sosial ini kemudian sangat membantu keberlanjutan perawatan mereka.
Dari aktivitasnya itu, dia menerima penghargaan dari Kepolisian RI.
Tapi sejatinya, penghargaan itu adalah simbol pengakuan atas kesabaran dan ketelatenannya setiap hari: saat ia membersihkan orang yang mengamuk, menenangkan yang berteriak, dan saat ia memilih bertahan ketika yang dibantunya justru memaki dan melawannya.
Bagi kami ( K. Cholil Nafis, K.Kikin dan saya ) yang membina santri, kisah Pak Purnomo menjadi motivasi yang amat dahsyat.
Kami merasa, kesabaran dan ketekunan kami dalam membimbing santri, belum seberapa dibanding perjuangan pak Purnomo.
Maka, dari silaturrahim malam itu, kami atau setidaknya saya peribadi, mendapatkan 2 pelajaran.
Pertama: sabar dalam perjuangan memanusiakan manusia itu tak berbatas.
Kedua: menjadi manusia sejati bukan soal seberapa lantang kita bersuara, tapi seberapa kuat kita sanggup bertahan merawat yang paling rapuh untuk menjadi tangguh.
Salam SEROJA, sehat rohani dan jasmani. (*)
Editor : Ainul Hafidz