JombangBanget.id - Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Senin (12/1), Pengasuh PP Shofwanul Hikmah, Badas, Kecamatan Sumobito, KH Moh Roihan Sugondo, menjelaskan pentingnya beramal baik.
’’Pada hari akhir nanti semua orang akan dibangkitkan sesuai amalnya masing-masing,’’ tuturnya.
Allah Ta’ala berfirman di QS An-Naba’ 18. Pada hari ketika sangkakala ditiup, lalu kamu datang berkelompok-kelompok.
Sahabat Mu‘adz bin Jabal radiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam tentang makna ayat tersebut.
Mendengar pertanyaan itu, Rasulullah menangis, lalu bersabda bahwa umatnya akan dibangkitkan dalam berbagai rupa sesuai amal perbuatannya di dunia.
Tangisan Nabi menunjukkan besarnya kasih sayang beliau kepada umatnya, sebagaimana firman Allah di QS Attaubah 128.
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu.
Pertama, dibangkitkan berwujud kera, orang yang gemar mengadu domba. Rasulullah bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba. Adu domba merusak masyarakat sebagaimana api membakar kayu.
Kedua, dibangkitkan berwujud babi, orang yang memakan harta haram. Allah Ta’ala berfirman di QS Al-Mukminun 51. Makanlah dari yang halal dan baik, dan beramallah saleh.
Ibadah tidak akan diterima jika perut dipenuhi yang haram.”*
Ketiga, dibangkitkan dalam keadaan buta, orang yang melanggar hukum Allah Ta’ala.
Sebagaimana disebutkan di QS Thaha 124:
Keempat, tuli, bisu, dan tidak berakal, orang yang pamer amal (riya’). Rasulullah bersabda: Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’.
Kelima, kepala di bawah, kaki di atas, pemakan riba. Sebagaimana disebutkan di QS Albaqarah 275.
Keenam, mengunyah lidahnya sendiri, orang alim atau hakim yang zalim. Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu berkata: Kezaliman orang alim lebih berbahaya daripada kebodohan orang awam.
Ketujuh, tangan dan kaki terputus, orang yang menyakiti tetangga dan teman. Rasulullah bersabda: Demi Allah, tidak beriman seseorang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.
Kedelapan, berbau bangkai, orang yang menuruti hawa nafsu.
Hasan Al-Bashri (tabi‘in) berkata: Musuh terberatmu adalah nafsumu sendiri yang berada di antara dua lambungmu.
Kesembilan, wajah seperti bulan purnama, orang saleh yang menjaga iman dan tobat.
Mereka senantiasa berbuat baik. Menjauhi larangan Allah Ta’ala. Menjaga salat. Serta wafat dalam keadaan tobat.
Mereka melewati siratal mustaqim secepat kilat.
Dikisahkan, Imam Fudhail bin ‘Iyadh menangis setiap membaca ayat tentang hari kebangkitan. Ketika ditanya sebabnya, beliau berkata: ’’Aku takut dibangkitkan bukan sebagai ahli ibadah, tapi sebagai ahli maksiat yang menyangka dirinya baik.’’ (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz