Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Binrohtal: Begini Cara Tiga Golongan Manusia Menyikapi Dunia Akhirat

Rojiful Mamduh • Rabu, 24 Desember 2025 | 13:01 WIB

Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.
 

JombangBanget.id - Pengasuh PP Roudlotul Tahfidzil Qur'an 2 Ngemplak, sekaligus Ketua MUI Kecamatan Perak, KH Nur Roihan Alhafiz, menjelaskan pentingnya cerdas menyikapi dunia dan akhirat.

Hal itu diungkapkannya saat khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Jumat (19/12).

’’Menurut Yahya bin Mu‘adz, ada tiga golongan manusia dalam menyikapi dunia dan akhirat,’’ tuturnya.

Pertama derajat ‘abidin. Manusia yang seluruh hidupnya dicurahkan untuk ibadah dan akhirat, hingga urusan dunia hampir terabaikan. Hati mereka penuh dengan zikir, salat, dan rasa takut kepada Allah Ta’ala.

 Baca Juga: Binrohtal: Tak Perlu Emosi, Begini Cara Islam Menyikapi Perbedaan Pendapat

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir

Meskipun derajat ini mulia, melalaikan kewajiban duniawi, seperti nafkah keluarga dan kemaslahatan umat bukanlah tujuan syariat.

Kedua derajat celaka. Manusia yang tenggelam dalam urusan dunia hingga lupa kepada Allah Ta’ala dan hari akhir. Hidupnya hanya berorientasi pada harta, jabatan, dan kesenangan.

Allah Ta‘ala berfirman di QS Ar-Rum 7. Mereka hanya mengetahui yang lahir dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap akhirat mereka lalai.

Rasulullah bersabda: Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham

Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu berkata: Tidak ada kebaikan pada kaum yang hidup untuk dunia tetapi menghancurkan akhiratnya.

Rasulullah bersabda: Cinta dunia adalah pangkal dari setiap kesalahan.

Ketiga derajat cerdas. Manusia yang mampu menempatkan dunia sebagai sarana, bukan tujuan. Menjadikan akhirat sebagai orientasi utama tanpa meninggalkan tanggung jawab duniawi.

Allah Ta‘ala berfirman QS Al-Baqarah 201. Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.

Juga di QS Al-Qashash 77. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah engkau melupakan bagianmu di dunia.

Rasulullah bersabda: Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.

Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu berkata: Beramallah untuk duniamu seakan kamu hidup selamanya. Beramallah untuk akhiratmu seakan kamu mati besok.

Syekh Abdul Qadir Al-Jilani rahimahullah menasihati: Hiduplah di dunia dengan jasadmu, dan di akhirat dengan hatimu.

Alkisah, Abdurrahman bin Auf radiyallahu ‘anhu, kaya raya. Ia berdagang dengan jujur, menafkahkan hartanya di jalan Allah, dan tetap hidup sederhana.

Ketika menjelang wafat, ia menangis dan berkata: Aku takut kebaikanku telah disegerakan di dunia.

Nabi bersabda; Abdurrahman bin Auf kelak akan masuk surga dengan merangkak. Artinya, Nabi menjamin dia masuk surga.

Ia contoh nyata derajat cerdas: Sukses dunia, selamat akhirat. (jif/ang)

Editor : Ainul Hafidz
#Golongan #tiga #manusia #akhirat #Binrohtal #Menyikapi #dunia