OKTOBER 2025 menjadi saksi perjalanan yang tak terlupakan bagiku saat dinobatkan sebagai Juara 1 Duta Santri Pelajar NU.
Perjalanan ini bukan sekadar kompetisi, melainkan pembuktian kedalaman spiritual dan bakat seorang santriwati.
Masa karantina menguji ketahananku secara bertahap. Hari pertama dimulai dengan ujian nahwu shorof, kelancaran mengaji, hingga hafalan kitab.
Setelah lolos, tantangan berubah di hari kedua saat aku harus menunjukkan kepercayaan diri di atas catwalk.
Alhamdulillah, semua tahap berhasil aku lalui hingga melaju ke babak final.
Momen paling mendebarkan terjadi di malam puncak.
Aku diharuskan melakukan analisis penalaran fiqih, khususnya mengenai relevansi ajaran aswaja dan ke-NU-an di era modern.
Aku menjelaskan bahwa NU bukan sekadar organisasi, melainkan penjaga ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.
Dalam sesi unjuk bakat, aku menampilkan taqdimul qishoh melalui akting penuh menggunakan bahasa Arab.
Jujur, aku sempat berkecil hati karena peserta lain tampil sangat memukau. Namun, takdir Allah berkata lain.
Namaku dipanggil masuk tiga besar hingga akhirnya meraih gelar juara pertama.
Baca Juga: Dari Lapar ke Luhur, Ramadan dan Internalisasi Nilai Kejujuran
Kemenangan ini adalah hadiah dari Allah atas setiap bait nahwu yang kuhafal dan setiap doa yang kupanjatkan.
Bagiku gelar ini adalah amanah untuk terus membawa pesan bahwa santriwati bisa bersinar dalam prestasi tanpa meninggalkan jati diri pesantren.
Oleh: Sayyidah Khodijah Alkarimah, Kelas XII-7 SMA Darul Ulum 2 Unggulan BPPT, Jombang
Editor : Ainul Hafidz