BELAKANGAN ini kita disuguhi dinamika politik, sosial, dan ekonomi yang penuh warna.
Reshuffle kabinet di tingkat pusat hingga pergeseran pejabat di daerah, termasuk di Jombang, menimbulkan riak pro-kontra di media sosial.
Ada yang marah karena temannya diganti, ada pula yang bersorak gembira karena kawannya dipasang.
Semua orang punya cara pandang sesuai asumsi dan preferensi masing-masing.
Bagi saya pribadi, yang sudah memasuki usia kepala enam, dinamika semacam itu tidak perlu terlalu dibawa serius.
Hidup ini terlalu berharga bila dihabiskan untuk mengurusi naik-turunnya kursi kekuasaan.
Jabatan itu sekadar giliran. Teman bisa berganti peran, tetapi persahabatan jangan sampai ikut tergerus hanya karena urusan politik.
Dalam budaya Jawa, istilah balung tuwo mengandung makna bahwa tubuh kita semakin rapuh, tidak sekuat masa muda.
Itu adalah tanda bahwa langkah perlu diperlambat. Kita tidak harus ikut berlari kencang bersama generasi muda.
Saatnya menata hati, menjaga kesehatan, dan menikmati hidup dengan lebih tenang.
Saya sering bercanda dengan teman-teman seusia: “Kalau dulu kita kuat begadang dua malam full demi rapat organisasi, sekarang begadang setengah malam saja langsung masuk angin.. hehe..”
Baca Juga: Gus Zu'em: Unjuk Rasa dengan Rasa
Candaan itu bukan untuk meratapi umur, tapi untuk mengingatkan bahwa tulang tua memang sebaiknya istirahat.
Istirahat di sini bukan berarti berhenti berkarya atau pasrah tanpa daya.
Justru inilah momen untuk memberi ruang bagi diri lebih banyak bersyukur, merenung, serta berbagi pengalaman kepada anak-anak muda.
Jangan sampai hidup hanya diisi dengan scrolling media sosial lalu ikut ribut di kolom komentar.
Lebih baik kita menulis pengalaman hidup, atau minimal menghibur cucu dengan cerita masa kecil.
Percayalah, cucu akan lebih semangat mendengar kisah “mbahnya pernah jatuh dari pohon jambu” daripada mendengar analisis reshuffle pejabat.
Generasi muda wajar bila masih penuh semangat. Mereka punya energi besar untuk bergerak, bersuara, bahkan berdebat.
Namun, izinkan menasehati: jangan biarkan semangat berubah jadi emosi.
Politik, ekonomi, dan kondisi sosial bisa berubah kapan saja, tetapi dampak dari sikap yang kita ambil, tetap harus ditanggung.
Jadi, sebelum marah-marah di jalanan atau di dunia maya, lebih baik tenangkan dulu.
Ingat, postingan status bisa dihapus, tapi rasa malu kadang sulit hilang, karena jejak digital sangatlah kejam.
Sementara itu, generasi tua punya peran berbeda. Kita tidak perlu lagi ikut dalam pusaran konflik yang melelahkan.
Cukuplah menjadi penengah, pengingat, atau penyemangat dengan cara yang menyejukkan.
Saya pribadi lebih senang kalau obrolan di WAG alumni dibumbui humor ringan.
Misalnya, ketika ada yang berdebat serius soal politik, saya biasanya nyeletuk: “Wis, ojo ngelu-ngelu mikir negoro. Sing penting beras iso dimasak, kopi iso diudek, lan bojo iso dijejeri, wis alhamdulillah.. opo maneh nek jik iso keramas..”
Sticker tawa pun bermunculan, dan suasana kembali cair, beralih membahas merek shampoo favorite.
Dunia akan terus bergerak meskipun kita tidak lagi ikut berlari.
Biarlah generasi muda menjalani perannya dengan segala dinamika.
Tugas balung tuwo adalah menjaga kedamaian hati, agar ketika waktunya berhenti benar-benar tiba, kita meninggalkan jejak kebaikan, bukan perselisihan.
Maka kepada sahabat-sahabat seumuran : sudah saatnya kita istirahat.
Bukan berarti pasif, melainkan memilih untuk lebih bijak, lebih teduh, dan lebih damai dalam menyikapi setiap perubahan.
Karena pada akhirnya, yang benar-benar kita butuhkan bukanlah kemenangan politik atau jabatan tinggi, melainkan ketenangan batin, kesehatan yang terjaga, cucu yang tersenyum, dan tentu saja : pendamping yang selalu setia menentramkan hati.
Salam sehat dan sejahtera. (*)
Editor : Ainul Hafidz