JombangBanget.id - Anggota Komisi Dakwa MUI Kabupaten Jombang, KH Khairil Anam, menjelaskan golongan yang tertipu.
’’Seorang sufi dan ulama besar abad ke-3 Hijriyah, Imam Yahya bin Mu‘adz ar-Razi, menjelaskan ada tiga golongan yang tertipu kelas berat,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Senin (30/6).
Pertama, melakukan dosa tapi berharap ampunan tanpa tobat.
Dalam kehidupan ini, manusia sering kali tergoda oleh khayalan indah untuk meraih sesuatu tanpa usaha.
Ingin kaya tanpa bekerja, ingin sukses tanpa melewati proses dan ingin ijazah tanpa sekolah.
Padahal, hukum kehidupan yang telah ditetapkan oleh Allah menuntut adanya sebab untuk meraih akibat.
Banyak orang terjerumus dalam dosa, lalu merasa cukup hanya dengan mengatakan ’’Allah Maha Pengampun’’, tanpa pernah bertobat sungguh-sungguh.
Padahal Allah SWT berfirman dalam QS Annisa 17.
Sesungguhnya tobat di sisi Allah hanyalah bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan karena kejahilan, kemudian mereka segera bertobat.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tobat adalah penyesalan.
Orang yang tobat tanpa menyesali dan meninggalkan perbuatan dosa serta menggantinya dengan perbuatan baik, maka dia tertipu.
Baca Juga: Binrohtal: Menjaga Lisan Bagian dari Menjaga Iman
Kedua, ingin dekat kepada Allah SWT tapi enggan taat.
Allah SWT menuntut usaha dan kesungguhan. Sebagaimana ditegaskan dalam QS Annajm 39.
Dan manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.
Orang yang ingin bahagia di dunia dan akhirat, maka harus menanam amal saleh dan ketaatan. Tidak cukup dengan angan-angan kosong.
Allah SWT berfirman dalam QS Ali Imran 31. Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mencintai kalian.
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: Orang yang mengaku mencintai Allah namun tidak mengikuti Rasulullah maka cintanya itu dusta.
Abu Yazid al-Bustami berkata: Aku berjalan kepada Allah selama 30 tahun.
Namun saat aku sampai ke depan pintu, kulihat jalan yang lebih pendek dan terang: yaitu dengan taat kepada Allah.
Ketiga, menginginkan surga tapi menanam benih neraka.
Dikisahkan seorang pemuda datang kepada seorang ulama.
Ia berkata, ’’Aku ingin menjadi orang saleh dan masuk surga.’’
Ulama itu menjawab, ’’Apa yang telah kau persiapkan?’’ Pemuda itu menjawab, ’’Belum, aku masih ingin menikmati dunia.’’
Ulama itu berkata: ’’Sesungguhnya engkau seperti orang yang ingin menanam pohon di surga, tapi benih yang kau tanam adalah api neraka. Bagaimana mungkin tumbuh pohon surga dari tanah neraka?’’ (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz