JombangBanget.id - Pengurus MWCNU Kecamatan Mojoagung, Jombang, KH Ainul Mubin, menjelaskan hakikat muslim.
’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya,’’ tuturnya, saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Kamis (26/6).
Ini menegaskan bahwa Islam bukan hanya identitas, tapi perilaku.
Keislaman seseorang tidak cukup diukur dari ritual ibadah, tetapi juga dari sikap sosialnya.
Lisan yang menyakitkan dan tangan yang menyusahkan adalah pengkhianatan terhadap esensi Islam.
’’Nabi juga bersabda; Dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah SWT,’’ terangnya.
Hijrah bukan semata pindah tempat, tetapi perubahan sikap dan meninggalkan dosa.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Addariyat 50. Maka berlarilah kamu kepada Allah.
Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata dari-Nya untukmu.
Hijrah adalah lari dari maksiat menuju ketaatan, dari kelalaian menuju kesadaran, dari hawa nafsu menuju rida Allah SWT.
Nabi juga bersabda; Barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, maka dia beruntung.
Baca Juga: Binrohtal: Inilah 4 Jenis Mutiara yang Ada Dalam Diri Manursia dan Hal yang Bisa Menghilangkannya
Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia tertipu. Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin, maka ia terlaknat.
Barang siapa yang tidak bertambah (kebaikannya), maka ia dalam kerugian. Dan barang siapa dalam kerugian, maka kematian lebih baik baginya.
Kehidupan seorang muslim harus senantiasa dalam peningkatan. Itulah makna ’’falah’’ atau keberuntungan dalam banyak ayat Alquran.
Seperti disebutkan dalam QS Al A’la 14. Sungguh beruntung orang yang membersihkan dirinya (dari dosa).
Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata: Setiap nafas adalah modal, dan waktu adalah kehidupan.
Orang yang bijak adalah yang menjadikan waktunya sebagai ladang untuk akhirat.
Syekh Abdul Qadir al-Jilani radiyallahu anhu berpesan: Janganlah kamu tertipu dengan masa mudamu, kesehatanmu, atau panjang angan-angan.
Sebab maut bisa datang kapan saja.
Dikisahkan, seorang pemuda di zaman tabi’in bernama Malik bin Dinar melihat seorang pemabuk meninggal di jalan.
Ia tergugah, lalu berkata: ’’Jika ia bisa mati dalam kondisi seperti itu, bagaimana dengan aku?’’
Sejak saat itu, ia bertobat dan menjadi seorang ahli ibadah yang besar, penuh tobat dan hikmah.
Ini menunjukkan bahwa hijrah adalah panggilan personal yang bisa datang dari kejadian sekecil apa pun.
Yang penting adalah kesungguhan untuk berubah dan menjadi lebih baik setiap harinya.
Islam sejati membawa rahmat. Hijrah sejati meninggalkan maksiat, dan keberuntungan sejati hidup yang hari ini lebih baik dari kemarin.
Jangan sampai hari-hari kita sia-sia. Setiap hari adalah kesempatan untuk mendekat kepada Allah SWT, memperbaiki amal, dan meraih kebahagiaan hakiki.
Allah SWT berfirman dalam QS Alwaqiah 10-11.
Dan orang-orang yang paling dahulu (dalam iman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga), mereka itulah orang-orang yang dekat (kepada Allah). (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz