Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ramadan dan Rahasia Kehangatan Keluarga

A
Penulis: Ainul Hafidz❯

Nailatin Fauziyah, Dosen Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Sunan Ampel Surabaya
Nailatin Fauziyah, Dosen Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Sunan Ampel Surabaya


Advertisement

PADA saat Ramadan ada ritme yang khas yang membedakan dari hari-hari biasanya, yaitu saat sahur dan berbuka.

Saat dimana bisa berkumpul bersama keluarga dalam suasana yang lebih hening dan hangat.

Duduk bersama di meja sahur yang sederhana atau menanti azan Magrib dengan perasaan yang sama. Atau ngabuburit bersama mencari jajanan untuk berbuka.

Advertisement

Maupun mengaji bersama selepas Subuh. Situasi ini akan menghadirkan pengalaman emosional kolektif yang jarang terjadi di bulan-bulan selain Ramadan.

Kebersamaan yang tercipta di momen Ramadan bukan sekedar rutinitas. Namun dapat menjadi ruang tumbuh kedekatan emosional antar anggota keluarga.

Dalam Psikologi Keluarga, kedekatan emosional disebut sebagai bonding atau attachment.

Advertisement

Menurut teori ini, hubungan yang hangat, responsive, dan penuh kehadiran akan membentuk rasa aman (secure attachment).

Rasa aman inilah yang menjadi pondasi kesehatan mental anak, keharmonisan pasangan, bahkan ketahanan keluarga dalam menghadapi masalah.

Sahur di bulan Ramadan menjadi momen kebersamaan yang intim. Pada situasi yang sunyi dan mata masih setengah terpejam, para anggota keluarga saling membangunkan.

Saling membantu menyiapkan sahur. Saling menguatkan untuk menghalau rasa kantuk, dan menimbulkan percakapan kecil yang hangat.

Demikian juga waktu berbuka. Bersama-sama menunggu azan Magrib.

Saling bercerita aktivitas dalam keseharian. Serta bahagia saat bersama-sama merayakan keberhasilan berpuasa.

Pengalaman bersama seperti ini dalam psikologi disebut shared emotional experience, yang terbukti dapat memperarat hubungan interpersonal.

Alquran juga mengingatkan tentang pentingnya relasi keluarga yang penuh dengan kasih sayang ’’Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadaNya, dan Dia menjadikan diantara rasa kasih dan sayang (mawaddah wa rahmah)” (QS. Ar Rum 21).

Bagi anak-anak, Ramadan merupakan kenangan emosional. Bagaimana mereka diperlakukan selama proses belajar berpuasa.

Cara orang tua membangunkan sahur dengan kelembutan. Merespons keluhan lapar dengan empati. Membantu untuk tenang ketika dalam kemarahan.

Serta mendampingi ketika anak merasa lelah. Semua ini akan membentuk pengalaman emosional yang mendalam.

Saat anak merasa dimengerti, didampingi, dikuatkan, dan dibimbing dengan sabar, puasa tidak lagi terasa sebagai beban.

Melainkan sebagai perjalanan yang penuh makna. Dalam suasana yang hangat dan supportif, anak belajar bahwa agama bukan sekadar aturan, tetapi ruang kasih sayang.

Menjalankannya memberikan efek psikologis dan nilai lebih. Pengalaman inilah yang perlahan menanamkan rasa aman, kedekatan, dan kecintaan pada nilai-nilai spiritual yang akan mereka ingat di luar bulan Ramadan.

Pengalaman ini membentuk internal working model tentang bagaimana cinta dan agama dikenali.

Keluarga yang kuat bukanlah keluarga yang tanpa masalah.

Namun keluarga yang dapat menjadi ruang tumbuh bersama. Antar anggota saling belajar dan menguatkan.

30 hari selama Ramadan dapat menjadi media latihan intensif untuk bersabar, membangun empati, berkomunikasi, dan saling berkasih sayang dalam keluarga.

Dan semoga ketika takbir berkumandang nanti, yang kembali fitrah bukan hanya fitrah individu, tetapi juga fitrah keluarga: Rumah yang hangat, hati yang lebih lembut, pelukan erat, dan hubungan yang saling menguatkan.

Baiti jannati. Marhaban ya Ramadan (*)

Penulis:

Nailatin Fauziyah, Dosen Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Sunan Ampel Surabaya

Advertisement

Artikel Terkait

Jika Alam Tidak Mengenal Sampah, Mengapa Kita Menciptakannya?

Jika Alam Tidak Mengenal Sampah, Mengapa Kita Menciptakannya?

Manusia terbiasa dengan satu pola sederhana: mengambil, menggunakan, lalu membuang. Sesuatu yang tidak lagi dibutuhkan segera kita beri nama “sampah”.

Implementasi Ajaran Ki Hajar Dewantara Neng-Ning-Nung-Nang  untuk Kebangkitan Tamansiswa

Implementasi Ajaran Ki Hajar Dewantara Neng-Ning-Nung-Nang  untuk Kebangkitan Tamansiswa

Ki Hadjar Dewantara mendirikan Tamansiswa pada 3 Juli 1922 bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, melainkan gerakan kebudayaan dan perjuangan bangsa.

Tamu Kehormatan

Tamu Kehormatan

’’BARANG siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.’’ (HR Bukhari dan Muslim). Hadis ini berakar dari kisah Nabi Ibrahim yang kedatangan tamu orang asing di rumahnya.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer