Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ramadan dan Ngaji Bandongan

A
Penulis: Ainul Hafidz❯

 Ni'maturrohmah MPd, Wakakurikulum SMA A Wahid Hasyim Tebuireng, Jombang.
Ni'maturrohmah MPd, Wakakurikulum SMA A Wahid Hasyim Tebuireng, Jombang.


Advertisement

BISMILLAH kelawan nyebut asmane Gusti Alloh. Robbil ‘alamina kang mengerani sak sekabehe alam…

Kalimat Jawa itu terdengar dari para qori’ yang berada di shelter, mushola dan beberapa  ruang kelas bersama para siswa-siswi di SMA A Wahid Hasyim Tebuireng.

Pengajian bandongan ini dilakukan sejak awal bulan Ramadan sampai 11 Maret 2026. Dimulai pukul 10.00 sampai 11.00 siang.

Advertisement

Pengajian menggunakan  model bandongan klasikal yang dibacakan oleh para ustad dan ustadah yang memang memiliki keilmuan dibidang baca kitab kuning.

Ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan di SMA A Wahid Hasyim Tebuireng dan diikuti oleh seluruh siswa dan siswi.

Serta tidak sedikit para guru juga mengikuti pengajian tersebut.

Advertisement

Kitab yang dikaji di antaranya; Arba'un Haditsan fi Fadhoilil Quran karya Habib Abdurrahman bin Abdillah Bilfaqih.

Ulama yang masyhur alim dalam ilmu hadis dari Kota Malang, Jawa Timur.

Kitab tersebut membahas tentang hadis Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam yang menjelaskan tentang kemuliaan, keutamaan, pahala membaca, mempelajari, dan mengamalkan Alquran.

Dilihat dari bentuk fisiknya, kitab ini tidak begitu tebal. Tetapi kandungan makna yang ada didalamnya sangat tebal.

Banyak ilmu yang dijelaskan dengan detail sebagai pondasi untuk pemahaman agama.

Kitab lain yang dikaji ’’Wasiath’’  yang terkenal dalam tradisi keilmuan Islam.

Khususnya dalam bidang akidah Ahlussunnah wal Jama'ah, karya Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi). 

Kitab ini membahas tentang Akidah dan Tauhid. Menjelaskan keesaan Allah, sifat-sifat Allah, transendensi Allah (tidak menyerupai makhluk).

Serta keyakinan yang benar tentang Allah. Tentang Iman dan Amal. Juga membahas kedudukan iman, rukun iman, dan hubungan antara iman dan amal perbuatan.

Serta membahas teologi dasar yang  memberikan penegasan pandangan yang lurus tentang perkara-perkara yang menjadi rujukan dalam Mazhab Hanafi.

Seperti tidak mudah mengkafirkan sesama muslim (menghindari takfir).

Di kitab tersebut juga terdapat pembahasan tentang nasihat moral yaitu  memuat nasihat akhlak, kejujuran, ketakwaan, dan adab.

Sekolah melalui Bidang Ketakwaan mengambil dua judul kitab tersebut dengan dua alasan.

Pertama, pahala yang dilipatgandakan bagi siapapun kaum muslim yang melaksanakan ibadah puasa. Sekaligus melakukan hal positif.

Seperti mengaji kitab yang merupakan bekal ilmu yang penting dimiliki oleh siswa-siswi dan santri.

Kedua, kitab tersebut dikaji dalam kegiatan Ramadan karena memuat materi yang terintegrasi dengan pembelajaran muatan lokal (mulok) pada kurikulum pesantren dan kurikulum nasional.

Para pembina terutama stakholder sekolah dan pengasuh pesantren memiliki harapan besar kepada para siswa-siswi yang juga santri di Pesantren Tebuireng.

Utamanya agar saat mereka liburan di rumah nanti, tetap bisa menjalankan ibadah dengan baik.

Sebagaimana yang dilakukan saat mereka masih di Pesantren Tebuireng.

Bahkan diharapkan bisa lebih baik lagi dan istiqamah. Barokallah… Amin. (*)

Penulis:

Ni'maturrohmah MPd, Wakakurikulum SMA A Wahid Hasyim Tebuireng, Jombang

Advertisement

Artikel Terkait

Jika Alam Tidak Mengenal Sampah, Mengapa Kita Menciptakannya?

Jika Alam Tidak Mengenal Sampah, Mengapa Kita Menciptakannya?

Manusia terbiasa dengan satu pola sederhana: mengambil, menggunakan, lalu membuang. Sesuatu yang tidak lagi dibutuhkan segera kita beri nama “sampah”.

Implementasi Ajaran Ki Hajar Dewantara Neng-Ning-Nung-Nang  untuk Kebangkitan Tamansiswa

Implementasi Ajaran Ki Hajar Dewantara Neng-Ning-Nung-Nang  untuk Kebangkitan Tamansiswa

Ki Hadjar Dewantara mendirikan Tamansiswa pada 3 Juli 1922 bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, melainkan gerakan kebudayaan dan perjuangan bangsa.

Tamu Kehormatan

Tamu Kehormatan

’’BARANG siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.’’ (HR Bukhari dan Muslim). Hadis ini berakar dari kisah Nabi Ibrahim yang kedatangan tamu orang asing di rumahnya.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer